← Kembali ke beranda

Death on the Nile

Dari merebut tunangan sahabat hingga rentetan pembunuhan di kapal pesiar Sungai Nil: Ulasan lengkap alur cerita film Death on the Nile (1978), para tersangka di atas kapal, dan cara kerja pelaku yang dibongkar Poirot

Judul

Death on the Nile

Tahun / Durasi

1978 · 140 menit

Genre

Drama / Misteri / Kriminal

Sutradara

John Guillermin

Penulis

Anthony Shaffer

Rating

Pemeran

Peter Ustinov (sebagai Hercule Poirot), Lois Chiles (sebagai Linnet Ridgeway Doyle), Mia Farrow (sebagai Jacqueline De Bellefort), Simon MacCorkindale (sebagai Simon Doyle), David Niven (sebagai Colonel Race), Jane Birkin (sebagai Louise Bourget)

Karya asli

Novel Death on the Nile (1937) karya Agatha Christie

Penghargaan

Academy Awards ke-51: Desain Kostum Terbaik (Anthony Powell); BAFTA Awards ke-32: Desain Kostum Terbaik

Death on the Nile
Sebuah mobil terparkir di depan rumah mewah tua di tepi hamparan rumput Seorang pria dan seorang perempuan berbicara sambil berdekatan Dua penunggang kuda berhenti di hamparan pasir di depan piramida Perahu layar berlabuh di depan bangunan tepi air dan kerumunan orang Seorang perempuan bertopi berjaring dengan kerah bulu putih duduk di dalam mobil Sebuah kapal pesiar putih bertingkat dua berlayar di dekat tepi sungai
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Death on the Nile adalah film misteri kriminal Inggris yang disutradarai John Guillermin dengan skenario karya Anthony Shaffer, diadaptasi dari novel Agatha Christie berjudul sama yang terbit pada 1937. Peter Ustinov untuk pertama kalinya memerankan detektif Hercule Poirot di layar lebar, bersama Lois Chiles, Mia Farrow, Simon MacCorkindale, David Niven, Jane Birkin, Bette Davis, Maggie Smith, dan Angela Lansbury. Film ini tayang pada 1978 dengan durasi 140 menit, dan desain kostum karya Anthony Powell membuatnya meraih penghargaan Desain Kostum Terbaik di Academy Awards ke-51.

Hingga 7 September 2026, film ini mendapat nilai 7,3 di IMDb dari sekitar 45.000 suara; Rotten Tomatoes menghimpun 20 ulasan kritikus dengan tingkat kesegaran 80% dan skor penonton 79%. Tanggapan kritikus maupun penonton secara keseluruhan cenderung positif, dan bagian yang paling banyak dipuji adalah jajaran bintangnya, lokasi syuting asli di Mesir, kostum, serta struktur misteri klasiknya.

Pertunangan yang Berubah di Rumah Mewah

Linnet Ridgeway yang kaya raya tinggal di sebuah rumah mewah di Inggris. Sahabatnya, Jacqueline De Bellefort, datang berkunjung bersama tunangannya, Simon Doyle, untuk meminta Linnet memberi pekerjaan kepada Simon yang sedang kesulitan keuangan. Linnet mempekerjakan Simon untuk mengurus propertinya, tetapi Simon segera meninggalkan Jacqueline lalu menikahi Linnet. Jacqueline, yang semula memperkenalkan tunangannya kepada sahabatnya sendiri, justru menjadi pihak yang ditinggalkan.

Sebuah mobil terparkir di depan rumah mewah tua di tepi hamparan rumput

Setelah menikah, Linnet dan Simon berbulan madu ke Mesir. Di depan orang banyak keduanya tampak mesra, tetapi mereka terus-menerus berpapasan dengan Jacqueline yang mengikuti ke mana pun mereka pergi. Linnet ingin lepas dari gangguan itu sekaligus khawatir Jacqueline benar-benar akan mewujudkan ancamannya.

Seorang pria dan seorang perempuan berbicara sambil berdekatan

Dibuntuti Sepanjang Perjalanan di Mesir

Linnet dan Simon mengunjungi piramida dan berbagai tempat terkenal lainnya, dan Jacqueline tetap muncul di sekitar mereka. Hercule Poirot, detektif Belgia yang sedang berlibur di Mesir, memperhatikan konflik di antara ketiganya. Linnet memintanya turun tangan untuk menghentikan Jacqueline, tetapi Poirot menjelaskan bahwa sekadar membuntuti dan menampakkan diri tidak bisa dijerat secara hukum. Setelah itu ia membujuk Jacqueline agar meninggalkan pasangan pengantin baru tersebut, namun Jacqueline menolak.

Dua penunggang kuda berhenti di hamparan pasir di depan piramida

Untuk melepaskan diri dari pembuntut itu, Linnet dan Simon sengaja membuat kesan seolah-olah akan pergi ke Alexandria, lalu naik ke kapal pesiar Karnak yang berlayar menyusuri Sungai Nil. Setelah kapal meninggalkan dermaga, Jacqueline ternyata tetap muncul di atas kapal. Bulan madu Linnet dan Simon pun berubah menjadi pelayaran yang tidak bisa lepas dari hubungan masa lalu.

Perahu layar berlabuh di depan bangunan tepi air dan kerumunan orang

Seorang perempuan bertopi berjaring dengan kerah bulu putih duduk di dalam mobil

Para Tersangka di Atas Kapal Karnak

Di kapal itu juga ada Colonel Race beserta sejumlah penumpang yang punya benturan kepentingan dengan Linnet. Andrew Pennington, wali pengelola hartanya, sedang menutupi penggelapan aset; pelayan pribadinya, Louise Bourget, menyimpan dendam karena Linnet tidak menepati janji membiayai pernikahannya; novelis Salome Otterbourne tengah menghadapi gugatan pencemaran nama baik yang diajukan Linnet, sementara putrinya, Rosalie, ingin melindungi sang ibu. Dokter jiwa Bessner khawatir Linnet akan mempertanyakan metode pengobatannya di depan umum, dan penulis Ferguson memusuhi kekayaan yang diwakili perempuan itu.

Sebuah kapal pesiar putih bertingkat dua berlayar di dekat tepi sungai

Mrs. Van Schuyler, perempuan kaya asal Amerika, mengincar kalung mutiara milik Linnet, sedangkan Miss Bowers yang menjadi pendampingnya menyalahkan ayah Linnet atas kebangkrutan keluarganya. Poirot dan Race lambat laun menyadari bahwa Jacqueline memang paling terang-terangan menunjukkan kebenciannya, tetapi ia bukan satu-satunya orang di kapal yang punya motif.

Seorang perempuan lanjut usia duduk di kursi berlengan bersama perempuan pemegang koran di ruang duduk

Batu yang Jatuh di Kuil

Ketika para penumpang turun dari kapal untuk mengunjungi Kuil Karnak, sebongkah batu besar jatuh dari ketinggian dan nyaris menimpa Linnet dan Simon. Keduanya lolos dari serangan itu, tetapi di lokasi kejadian tidak langsung terungkap siapa yang mendorong batu tersebut. Setelah kembali ke kapal, bahaya belum juga berlalu, dan sengketa keuangan, dendam, serta hal-hal yang disembunyikan para penumpang membuat identitas penyerang semakin sulit dikenali.

Beberapa wisatawan berdiri di antara pilar-pilar batu yang menjulang

Satu Tembakan dan Dua Alibi

Pada suatu malam, Jacqueline bertengkar dengan Simon setelah minum-minum, lalu menembaknya. Simon roboh dengan kaki yang tampak terkena peluru. Rosalie dan Ferguson membawa Simon yang terluka itu untuk ditangani Dokter Bessner, sementara Miss Bowers menyuntikkan obat penenang kepada Jacqueline yang kehilangan kendali atas emosinya lalu menjaganya sepanjang malam. Pistol milik Jacqueline hilang di tengah kekacauan itu.

Seorang perempuan berambut keriting mengacungkan pistol dari jarak dekat ke arah seorang pria

Rangkaian kejadian itu membuat dua tersangka paling mencolok sama-sama terlindungi: Jacqueline berada di bawah pengaruh obat dan dijaga Bowers, sedangkan Simon dianggap terluka di kaki sehingga tidak bisa bergerak bebas. Keesokan paginya, Linnet ditemukan tewas di kabinnya sendiri dengan luka tembak di kepala, dan di dinding tertinggal huruf J yang ditulis dengan darah.

Kematian Linnet dan Pistol yang Hilang

Poirot dan Race mulai menyelidiki. Jacqueline punya alibi berupa pengawasan sepanjang malam, dan Simon juga terbaring dalam perawatan dokter. Pada saat yang sama, kalung mutiara Linnet raib. Mrs. Van Schuyler awalnya menyangkal telah mengambil kalung itu, yang belakangan kembali berada di tubuh jenazah, sehingga terbukti bahwa pencurian tersebut hanyalah cabang cerita yang membaur ke dalam kasus pembunuhan.

Seorang pria dan seorang perempuan berdiri di sisi ranjang memeriksa orang yang terbaring di atas bantal

Pistol yang hilang itu kemudian diangkat dari Sungai Nil. Senjata tersebut terbungkus selendang milik Mrs. Van Schuyler, dan di dalam bungkusan itu juga terdapat selendang berlubang bekas peluru, saputangan bernoda tinta merah, serta asbak marmer yang dipakai untuk menambah bobot. Barang-barang itu menunjukkan bahwa bercak darah di lokasi penembakan dan raibnya senjata sama-sama sudah diatur, bukan sesuatu yang tertinggal begitu saja di tengah kekacauan.

Seorang pria lanjut usia berjas menopang dagu sambil merenung

Dua Saksi yang Dibungkam Berturut-turut

Louise, pelayan pribadi Linnet, kemudian ditemukan tewas dengan leher tergorok, dan senjata yang dipakai adalah pisau bedah milik Dokter Bessner. Di genggamannya tersisa sepotong kecil uang kertas. Dari situ Poirot menyimpulkan bahwa Louise pernah melihat pelaku masuk atau keluar dari kabin Linnet lalu mencoba menukar kebungkamannya dengan uang, dan justru karena itulah ia dibunuh.

Berikutnya Salome Otterbourne memberi tahu Poirot dan Race bahwa ia melihat orang yang membunuh Louise. Sebelum sempat menyebutkan namanya, ia ditembak mati dari arah pintu dengan pistol milik Pennington. Pembungkaman beruntun itu mempersempit lingkaran tersangka: pembunuh kedua ini tahu bahwa Louise sedang memeras, sekaligus harus mencegah Salome mengungkapkan apa yang dilihatnya.

Seorang perempuan dengan wajah berlumur darah berdiri di antara dua pria berjas

Poirot Membedah Ulang Dua Penembakan

Poirot mengumpulkan para penumpang dan menjelaskan ulang malam ketika Jacqueline menembak Simon. Tembakan pertama Jacqueline sebenarnya tidak mengenai Simon; Simon memalsukan darah di kakinya memakai tinta merah dan saputangan, lalu pergi dengan memanfaatkan celah saat semua orang sibuk mengurus Jacqueline. Ia masuk ke kabin Linnet dan menembak mati istrinya, kembali ke ruang duduk, baru kemudian benar-benar menembak kakinya sendiri. Selendang Mrs. Van Schuyler dipakai untuk meredam suara tembakan, sedangkan pistol, saputangan berdarah palsu, dan asbak tadi kemudian dibuang bersama-sama ke sungai.

Seorang pria berkumis dengan topi berwarna terang duduk di geladak kapal pesiar

Jacqueline dan Simon sebenarnya tidak pernah benar-benar putus. Mereka mengatur pernikahan Simon dengan Linnet agar bisa menguasai harta perempuan itu setelah ia mati, lalu kembali bersama. Simon bertugas membunuh Linnet; Jacqueline membunuh Louise yang memeras Simon, kemudian menembak Salome tepat ketika perempuan itu hendak mengungkapkan apa yang dilihatnya. Lewat penembakan palsu yang dipentaskan di depan umum, keduanya mengemas diri masing-masing sebagai orang yang berada dalam pengawasan dan sebagai korban luka.

Ending

Poirot menyatakan di depan semua orang bahwa Simon dan Jacqueline merancang pembunuhan itu bersama-sama. Setelah rencana mereka terbongkar, Jacqueline mengakui bahwa keduanya selalu saling mencintai, lalu berjalan mendekati Simon yang terluka. Poirot langsung menyadari bahwa perempuan itu sudah berhasil mengambil kembali pistolnya, tetapi ia tidak sempat mencegahnya.

Jacqueline lebih dahulu menembak mati Simon, lalu mengakhiri hidupnya sendiri dengan pistol yang sama. Harta Linnet tidak mungkin lagi menjadi bekal kehidupan baru bagi keduanya, dan rencana yang tersusun dari tiga pembunuhan serta luka tembak palsu itu berakhir dengan kematian kedua pelaku pada saat yang bersamaan. Poirot dan para penumpang lainnya meninggalkan pelayaran di Sungai Nil tersebut, dan kasusnya pun tuntas sepenuhnya di atas kapal.

Seorang pria memeluk orang yang bersandar di bahunya dengan raut wajah muram