To Walk Invisible: The Brontë Sisters
Tiga saudari Brontë menempuh jalan menuju penerbitan di tengah keterpurukan saudara laki-laki mereka dan terbatasnya ruang bagi perempuan untuk menulis: rangkuman lengkap alur cerita To Walk Invisible: The Brontë Sisters, dari kumpulan puisi anonim dan terbitnya Jane Eyre hingga mereka mengungkap identitas di London
Judul
To Walk Invisible: The Brontë Sisters
To Walk Invisible
Tahun / Durasi
2016 · 120 menit
Genre
Drama / Biografi / Sejarah
Sutradara
Sally Wainwright
Penulis
Sally Wainwright
Rating
Pemeran
Finn Atkins (sebagai Charlotte Brontë), Charlie Murphy (sebagai Anne Brontë), Chloe Pirrie (sebagai Emily Brontë), Adam Nagaitis (sebagai Branwell Brontë), Jonathan Pryce (sebagai Patrick Brontë)
To Walk Invisible: The Brontë Sisters adalah film televisi Britania Raya tahun 2016 yang ditulis dan disutradarai oleh Sally Wainwright, serta dibintangi Finn Atkins, Charlie Murphy, Chloe Pirrie, Adam Nagaitis, dan Jonathan Pryce. Film ini pertama kali tayang di BBC One pada 29 Desember 2016. Dengan durasi 120 menit, film ini memusatkan kisah keluarga Brontë pada periode 1845 hingga 1848: ketiga saudari itu mulai memperjuangkan penerbitan karya mereka, sementara saudara mereka, Branwell, makin terpuruk akibat kecanduan alkohol, utang, dan patah hati.
Hingga 28 September 2026, film ini mendapat nilai 7,4 di IMDb dari sekitar 3.500 penilaian. Nilai yang berada di atas tujuh itu menunjukkan tanggapan penonton secara umum cenderung positif.
1845, Branwell Kembali ke Haworth
Film ini terlebih dahulu kembali ke masa kecil Brontë bersaudara. Keempat anak itu menciptakan tokoh dan peperangan dengan tentara mainan, lalu membangun dunia mereka sendiri dalam imajinasi. Kisah mereka saat dewasa dimulai pada 1845: Pendeta Patrick tinggal bersama ketiga putrinya, Charlotte, Emily, dan Anne, di rumah pendeta di Haworth, Yorkshire. Penglihatan Patrick memburuk, sementara tempat tinggal keluarga itu juga melekat pada jabatannya sebagai pendeta.

Anne semula bekerja sebagai guru privat di sebuah keluarga, dan Branwell juga mengajar anak-anak di sana. Branwell dipecat karena menjalin hubungan dengan nyonya rumah. Anne kemudian mengundurkan diri, lalu keduanya pulang secara bergantian. Dengan enggan, Anne menjelaskan kejadian sebenarnya kepada kedua kakaknya. Branwell masih percaya perempuan itu akan hidup bersamanya, tetapi keluarganya hanya melihat bahwa ia kehilangan pekerjaan, menghabiskan hari-harinya dengan minum, dan berulang kali menyia-nyiakan kesempatan yang sebenarnya dapat ia gunakan untuk melukis atau menulis.

Tiga Saudari Mulai Mencari Jalan untuk Mandiri
Patrick makin tua dan penglihatannya memburuk. Ketiga putrinya yang belum menikah khawatir mereka akan kehilangan tempat tinggal dan penghasilan jika ayah mereka meninggal. Charlotte terutama tidak mau menggantungkan masa depan pada Branwell. Branwell bercerita bahwa beberapa puisinya pernah diterbitkan dan ia juga mempertimbangkan untuk menulis novel. Percakapan itu justru menyadarkan Charlotte bahwa para saudarinya mungkin juga dapat memperoleh pijakan ekonomi dengan menerbitkan karya.

Charlotte menemukan naskah puisi di kamar Emily dan menilai puisi-puisi itu layak diterbitkan. Emily marah karena privasinya dilanggar dan tidak mau menyerahkan karyanya untuk dinilai orang asing. Namun, Anne tertarik pada rencana penerbitan itu dan menunjukkan puisinya sendiri serta novel Agnes Grey yang sedang ia tulis. Ketiganya masih berbeda pendapat tentang nilai karya masing-masing, tetapi untuk pertama kalinya mereka sungguh-sungguh mempertimbangkan kemungkinan mengirimkan karya bersama-sama.


Nama Bell Bersaudara Muncul di Kumpulan Puisi
Dalam lingkungan yang mudah berprasangka terhadap penulis perempuan, Charlotte, Emily, dan Anne masing-masing memakai nama pena Currer Bell, Ellis Bell, dan Acton Bell. Tanpa sepengetahuan ayah dan saudara laki-laki mereka, ketiganya menerbitkan Poems by Currer, Ellis, and Acton Bell dengan biaya sendiri. Kumpulan puisi itu tidak langsung mengubah hidup mereka, tetapi menjadi langkah pertama ketiganya dari menulis secara pribadi menuju penerbitan untuk umum.

Ketiga saudari itu kemudian menyiapkan novel masing-masing dan terus mengirimkan naskah dengan nama belakang Bell. Mereka memasukkan orang-orang yang mereka kenal, pengalaman kerja, dan lingkungan Yorkshire ke dalam karya, tetapi tidak mengungkap jenis kelamin asli mereka kepada publik. Sambil menunggu surat balasan, mereka tetap harus mengurus keluarga dan menghadapi kehidupan Branwell yang semakin tidak stabil.

Saat Penulisan Novel Berlanjut, Branwell Makin Terpuruk
Wuthering Heights karya Emily dan Agnes Grey karya Anne perlahan memperoleh kesempatan untuk diterbitkan, sedangkan novel pertama Charlotte, The Professor, berkali-kali ditolak. Ketiga saudari itu terus bertukar pendapat dan merevisi naskah. Emily membangun novelnya dari padang moor dan kisah-kisah yang akrab baginya, sementara Anne menuangkan pengalaman sebagai guru privat serta pengamatannya terhadap Branwell ke dalam karya.

Di sisi lain, Branwell menerima kabar dari kekasihnya: suami perempuan itu telah meninggal, tetapi surat wasiat menetapkan bahwa ia akan kehilangan rumah dan harta jika menikah lagi atau kedapatan berhubungan dengan Branwell. Ketentuan itu memupus harapan Branwell untuk bersatu dengannya. Ia semakin banyak minum, emosi dan perilakunya makin ganas, serta terus meminta uang kepada keluarga. Patrick mencemaskan kesehatan putranya sekaligus kehidupan ketiga putrinya setelah ia meninggal kelak.

Jane Eyre Terbit dan Keadaan Keluarga Berubah
Charlotte menemani ayahnya menjalani operasi katarak. Selama masa pemulihan Patrick, Charlotte mulai menulis novel keduanya, Jane Eyre. Ia meminta Emily dan Anne untuk tidak menunggunya dan melanjutkan karya masing-masing terlebih dahulu, sementara ia mencari penerbit untuk naskah barunya. Jane Eyre segera diterima, lalu novel-novel ketiga saudari itu terbit satu demi satu dan mendapat sambutan yang jauh melampaui kumpulan puisi mereka.

Sementara itu, Branwell pulang dalam keadaan lemah setelah sakit berkepanjangan. Berhenti minum secara mendadak membuatnya berhalusinasi. Keluarganya merawatnya sambil melunasi utang yang ia tinggalkan. Kesuksesan buku-buku itu akhirnya memberi penghasilan kepada ketiga saudari tersebut. Karena itu, Emily berpendapat bahwa mereka harus mengungkap kebenaran kepada ayah mereka agar Patrick tidak lagi khawatir putri-putrinya akan kehilangan tempat tinggal. Pada saat yang sama, mereka meminta ayah mereka untuk sementara tidak memberi tahu Branwell, karena pencapaian sastra yang selalu ia dambakan justru telah diraih oleh ketiga saudarinya.

Para Saudari Mengungkap Identitas kepada Ayah dan Pergi ke London
Ketiga saudari itu membawa buku-buku terbitan mereka kepada Patrick dan menjelaskan bahwa Currer, Ellis, dan Acton Bell adalah ketiga putrinya. Rahasia itu tidak lagi menjadi rencana yang hanya diketahui para saudari. Mereka pun tidak perlu lagi sepenuhnya menggantungkan masa depan ekonomi pada ayah atau saudara laki-laki mereka.

Kemudian, penerbit Anne, Thomas Cautley Newby, menyebut The Tenant of Wildfell Hall sebagai karya penulis Jane Eyre, sehingga identitas para penulis berbeda di balik nama pena Bell menjadi rancu. Charlotte memutuskan untuk menjelaskannya secara langsung. Anne pergi bersamanya ke London, sedangkan Emily bersikeras mempertahankan anonimitas. Charlotte dan Anne mengungkap identitas asli mereka kepada penerbit, disambut dengan hangat, lalu diajak menonton opera. Sejak itu, dunia luar mengetahui bahwa Currer dan Acton bukan pria yang sama dan bukan pula penulis yang sama.

Ending
Ketika Charlotte dan Anne kembali ke Haworth, Branwell sudah sakit parah. Ia tidak pernah pulih dari dampak kecanduan alkohol selama bertahun-tahun dan kemerosotan kondisi fisiknya, lalu akhirnya meninggal di tengah keluarganya. Sebagai laki-laki, Branwell pernah mendapat kesempatan pendidikan dan pekerjaan, tetapi gagal mewujudkan ambisi sastra dan seninya. Sebaliknya, ketiga saudarinya harus menyembunyikan jenis kelamin agar karya mereka dapat memasuki pasar penerbitan.

Setelah Branwell meninggal, ketiga saudari itu berjalan ke padang moor bersama sahabat mereka yang sedang berkunjung, Ellen Nussey. Sebuah fenomena parhelion muncul di langit, dengan titik cahaya tampak serentak di kedua sisi matahari, dan keempat perempuan itu berhenti untuk menyaksikannya. Film menghubungkan ketiga titik cahaya itu dengan ketenaran yang telah diraih ketiga saudari tersebut, lalu menampilkan teks yang menjelaskan akhir kisah mereka di dunia nyata: Emily meninggal karena sakit tiga bulan setelah Branwell, dan Anne meninggal lima bulan setelah Emily. Charlotte terus menerbitkan karya, tetapi juga tidak hidup melewati usia paruh baya. Patrick akhirnya hidup lebih lama daripada keempat anaknya, sedangkan rumah pendeta di Haworth kelak menjadi museum untuk mengenang keluarga Brontë.
