← Kembali ke beranda

The Devil's Mouth

Liburan kelulusan yang berubah jadi arena pemangsa di gua yang terendam air pasang: kisah lengkap Sara mengambil alih keputusan setelah insiden ubur-ubur, jalur merah yang berbahaya, dan teman-temannya tewas satu per satu, hingga akhirnya berhasil membunuh hiu banteng itu sendirian dan lolos dari gua.

Judul

The Devil's Mouth

Tahun / Durasi

2026 · 106 menit

Genre

Thriller / Horor

Sutradara

Jeff Wadlow

Penulis

Aja Gabel, Myung Joh Wesner

Rating

Pemeran

Kathryn Newton (sebagai Sara), Lana Condor (sebagai Max), Nico Hiraga (sebagai James), Gavin Casalegno (sebagai Greg), Tommi Rose (sebagai Adrienne), Tayme Thapthimthong (sebagai Wat), Sahajak Boonthanakit (sebagai Kapten), Harrison Luna (sebagai Ryan)

The Devil's Mouth
Kapten berbicara dengan Sara dan Max di meja dermaga Kelima sahabat berpelukan dan berfoto di atas kapal wisata Sara berenang sendirian di permukaan laut yang dipenuhi ubur-ubur Kelima sahabat duduk mengobrol di meja makan tepi pantai Sara dan pemandu Wat mendayung kayak menuju gua Tumbuhan hijau di luar mulut gua terpantul di permukaan air yang tenang
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

The Devil’s Mouth adalah film thriller horor Amerika tahun 2026 garapan sutradara Jeff Wadlow, dengan skenario oleh Aja Gabel dan Myung Joh Wesner, dibintangi oleh Kathryn Newton, Lana Condor, Nico Hiraga, Gavin Casalegno, dan Tommi Rose. Film berdurasi 106 menit ini mengubah liburan kelulusan lima sahabat kuliah di Thailand menjadi upaya bertahan hidup di dalam gua: badai beberapa hari sebelumnya menghanyutkan air laut dan makhluk laut ke dalam gua air tawar, dan salah satu hiu banteng yang mampu beradaptasi dengan air tawar berhasil bertahan hidup di sana.

Film ini tayang di Prime Video di Amerika Serikat pada 29 Juli 2026. Per 5 Agustus 2026, film ini mendapat skor 4,7 di IMDb dari sekitar 7.800 pemberi suara. Dari 37 ulasan yang tercatat di Rotten Tomatoes, 35% di antaranya positif, dengan skor Popcornmeter penonton sebesar 17%.

Liburan Kelulusan Tanpa Reservasi

Sara, Max, James, Adrienne, dan Greg baru saja lulus kuliah dan pergi bersama ke Thailand untuk menikmati liburan terakhir sebelum memasuki dunia kerja. Kelima orang ini tiba di dermaga tanpa reservasi, dan Kapten awalnya menolak membiarkan mereka naik kapal. Max yang mengurus negosiasi, sementara James dan yang lain menunggunya berhasil membereskan urusan itu lagi. Kapten akhirnya berubah pikiran, dan mereka berlima pun berlayar, minum-minum, berfoto, dan berenang di atas kapal.

Kapten berbicara dengan Sara dan Max di meja dermaga

Di atas kapal, Max memberi tahu Sara bahwa dirinya sudah mendapat pekerjaan mengelola media sosial sebuah merek pakaian renang di Los Angeles. Awalnya mereka berdua berencana pindah bersama ke New York, tapi Sara sudah menerima pekerjaan di New York, sementara Max berharap Sara pindah ke Los Angeles saja. Sara khawatir tidak punya pekerjaan, tempat tinggal, atau teman lain di sana, tapi Max tetap menganggap hubungan mereka berdua cukup untuk mengatasi semua itu. Mereka sudah tak terpisahkan sejak tahun-tahun awal kuliah; Sara terbiasa membiarkan Max menentukan rencana kelompok, dan Max juga menganggap menjaga Sara sebagai tanggung jawabnya sendiri.

Kelima sahabat berpelukan dan berfoto di atas kapal wisata

Sara Tertinggal di Laut

Saat Sara berenang sendirian di laut, Adrienne kebetulan sedang ke toilet. Kapten kembali ke dek dan bertanya apakah satu gadis lagi sudah naik kapal; Max mengira Sara sudah di atas kapal, sehingga kapal pun berangkat sambil memutar musik. Teriakan Sara tidak terdengar oleh teman-temannya, dan ia segera dikelilingi segerombolan ubur-ubur yang menyengat kaki dan tubuhnya berkali-kali. Setelah Adrienne kembali dan menyadari jumlah mereka tidak lengkap, barulah semua orang meminta Kapten memutar balik kapal untuk menyelamatkan Sara.

Sara berenang sendirian di permukaan laut yang dipenuhi ubur-ubur

Sara menuntut penjelasan teman-temannya kenapa tidak memastikan dirinya sudah naik kapal. Max awalnya melempar tanggung jawab ke Kapten, lalu menekankan bahwa dirinya sedang mabuk dan tidak bisa memperhatikan setiap detail; keduanya bertengkar sebelum akhirnya saling minta maaf. Malam itu, Sara menjelaskan bahwa suasana hatinya belakangan ini buruk karena teringat ayahnya yang sudah meninggal. Semasa hidupnya, sang ayah pernah datang ke tempat ini dan juga suka berenang di dalam gua. Max mengusulkan membatalkan rencana hari berikutnya, tapi Sara tetap memutuskan untuk pergi ke Devil’s Mouth, menjadikan penjelajahan gua ini sebagai bentuk mengenang ayahnya.

Kelima sahabat duduk mengobrol di meja makan tepi pantai

Saat berenang malam hari, mereka juga melihat seekor penyu yang tubuhnya hilang sebagian besar. Mereka pun ketakutan dan pergi, tanpa menyadari bahwa itu sudah menjadi tanda pertama munculnya predator besar di sekitar sana.

Jalur Merah dan Peringatan Gua

Keesokan harinya, kelima orang bertemu dengan pemandu lokal Wat, lalu naik kayak menuju mulut gua. Wat menunjukkan peta, menjelaskan bahwa jalur hijau lebih pendek dan lebih aman, sementara jalur merah lebih panjang dan lebih sulit, dan sebagian areanya baru saja terendam akibat hujan deras. Max menganggap jalur merah lebih seru, lalu disetujui James, Greg, dan Adrienne satu per satu; hanya Sara yang mengusulkan memakai jalur standar. Max akhirnya berhasil membujuk Wat untuk mengambil jalur merah, dan Sara pun ikut mengikuti keputusan bersama itu.

Sara dan pemandu Wat mendayung kayak menuju gua

Tumbuhan hijau di luar mulut gua terpantul di permukaan air yang tenang

Ryan, penyelam yang bertugas mengawasi di dalam air, memperhatikan bekas sengatan ubur-ubur di kaki Sara dan memberitahunya bahwa jika takut, ia bisa melihat ke arah cahaya di bawah air. Mereka satu per satu melewati terowongan biru berpasir putih yang disinari matahari, lalu memasuki ruang gua yang dipenuhi kelelawar. Greg tidak menghiraukan peringatan Wat dan bersiul hingga mengagetkan kelelawar; setelah itu ia juga menarik batu dan menjatuhkan sebongkah batu kapur. Wat memperingatkan bahwa lapisan batu di sini sangat rapuh, dan longsor besar bisa membunuh mereka semua.

Mereka kemudian memasuki Skeleton Cave. Wat menjelaskan bahwa dulu ada desa di sini, dan setelah tanahnya runtuh, tulang-belulang manusia tetap tertinggal di dalam air. Saat rombongan terus maju, mereka melihat banyak ikan mati. Wat menduga badai sebelumnya mengalirkan air laut ke dalam gua lewat lorong tinggi yang terhubung ke laut lepas, sehingga ikan air asin terjebak di air tawar dan mati; tapi saat itu belum ada yang menyadari mungkin masih ada makhluk laut lain yang bertahan hidup.

Luka, Air yang Bercahaya, dan Gigi Hiu

Sepanjang perjalanan, Wat memberi perhatian ekstra pada Sara. Setelah mendesak, barulah Sara tahu bahwa Max diam-diam membayar lebih agar sang pemandu khusus menjaganya. Sara merasa pengaturan ini tetap saja Max yang mengambil keputusan untuknya, dan keduanya kembali bertengkar. Setelah itu Max meminjam pisau Sara dan mengukir nama mereka berdua di dinding gua. Saat terus berjalan, kaki Adrienne terluka oleh batu tajam dan Sara membalutnya; Greg bereaksi keras karena takut melihat darah.

Kelima sahabat memakai headlamp berhenti di perairan gua yang gelap

Menurut aturan keselamatan, begitu ada yang terluka, mereka seharusnya langsung kembali. Max tidak mau melewatkan bagian terakhir gua ini dan mengusulkan pergi sendirian, tapi akhirnya seluruh rombongan tetap melanjutkan perjalanan. Wat meminta semua orang mematikan headlamp, dan air pun memancarkan cahaya biru saat terganggu oleh gerakan. Mereka seharusnya segera pergi, tapi malah meminta waktu beberapa menit lagi untuk tinggal.

Sara memberikan pelampungnya ke Adrienne yang terluka, lalu menyelam dan menemukan penyelam Ryan sudah tewas digigit hiu banteng. Masker wajahnya kemudian mengambang ke permukaan dengan sebuah gigi hiu tersangkut di sana. Wat memastikan ada hiu di dalam gua, sementara James menyimpulkan ini adalah hiu banteng yang bisa hidup di air asin maupun air tawar. Ryan menjadi korban tewas pertama di dalam gua.

Sara dan penyelam Ryan berdiri di ruang gua kapur

Kehilangan Pemandu dan Kematian Beruntun

Wat meminta semua orang diam dan segera bergerak, tapi Max dan yang lain terus bertanya kenapa hiu itu bisa masuk ke dalam gua. Di tengah pertengkaran itu, Wat pergi sendirian dan rombongan tidak sempat mengikutinya. Setelah kehilangan pemandu, Greg mengalami serangan panik akibat ketakutan dan luka Adrienne; Adrienne memberikan pelampungnya padanya, dan James beserta yang lain mencoba membawanya terus berenang.

Greg memakai headlamp menoleh ke belakang di air yang gelap

Hiu banteng menyerang dari belakang dan berkali-kali membenturkan Greg ke dinding batu. Adrienne menggenggam tangannya, tapi malah ikut terseret ke bawah air bersamanya. Hanya Adrienne yang berhasil naik kembali ke permukaan, sementara Greg sudah tewas. Yang lain menarik Adrienne yang lukanya makin parah ke atas bebatuan, masih berharap Wat bisa lebih dulu menemukan jalan keluar dan membawa bantuan; adegan kemudian berpindah ke lorong sempit lain, tempat Wat sudah berhadapan dengan hiu banteng dan terbunuh setelah jatuh kembali ke air.

Pemandu Wat memakai headlamp mengambang di permukaan air gua

Sara mencari lorong menuju laut lepas yang lebih dekat berdasarkan peta jalur, sementara Max ingin membawa peta itu dan terus bergerak sesuai arahnya sendiri. Saat keduanya bertengkar, Adrienne yang terluka parah tergelincir dari bebatuan. Teman-temannya berusaha menariknya kembali, tapi hiu banteng lebih dulu menggigitnya dan menyeretnya ke bawah air. Dari kelima sahabat awal, kini hanya tersisa Sara, Max, dan James.

Sara, Max, James, dan Adrienne yang terluka berdesakan di atas bebatuan

Lorong Sarang Lebah dan James Tertinggal di Bawah Air

Sara berpendapat jalan keluar ke laut lepas jaraknya lebih dekat dan sebaiknya segera dituju; Max khawatir hiu itu justru masuk dari sana dan bersikeras memilih lorong sarang lebah di peta, karena celah batu yang sempit mungkin bisa menghalangi kejaran hiu. James mendukung penilaian Sara, sementara Max menganggap pilihan itu sebagai pacarnya yang memihak Sara. Setelah Max turun ke air sendirian, James tidak mau membiarkannya sendiri, dan akhirnya Sara pun terpaksa ikut.

Bertiga mereka memasuki serangkaian lorong bawah air yang sempit, dan hanya bisa mengambil napas di kantong udara yang muncul berselang. Batu di belakang mereka runtuh dan menutup jalan kembali; saat terus maju, James terjepit batu yang jatuh. Sara dan Max mencoba memindahkan batu itu dan menarik James keluar, juga membagi udara terbatas mereka padanya, tapi batu itu tidak bisa digerakkan. James sadar bertahan lebih lama hanya akan membuat mereka bertiga kehabisan udara bersama-sama, sehingga ia mendesak keduanya pergi. Ia tidak tewas digigit hiu, melainkan terjebak di bawah air dan meninggal setelah udaranya habis.

Sara, Max, dan James saling menarik di celah batu yang sempit

Sara memaksa membawa pergi Max yang enggan meninggalkan James. Mereka berdua terus menyusuri jalan dan menemukan jasad Wat; saat hiu itu mendekat, Sara memanfaatkan jasad tersebut untuk mengalihkan perhatiannya, sehingga mendapat waktu untuk pergi. Mereka kemudian menyadari lorong sarang lebah ini berputar dalam lingkaran besar dan kembali ke area tempat mereka kehilangan teman-teman sebelumnya.

Sara Mengambil Alih Keputusan

Sara menunjukkan bahwa sejak memilih jalur merah, Max terus-menerus menolak pendapat orang lain, dan sekarang mereka berdua malah dibawa kembali ke titik semula. Setelah kematian James, Max mengakui bahwa selama ini ia selalu berusaha terlihat kuat dan mengambil keputusan untuk semua orang, dan akhirnya setuju membiarkan Sara mengatur jalur pelarian selanjutnya.

Sara dan Max memakai headlamp bergerak maju di lorong sempit

Keduanya kembali menyusuri terowongan biru menuju jalan keluar ke laut lepas. Mereka mematikan headlamp dan mengurangi gerakan di permukaan air, dan di tengah jalan mereka juga melihat jasad Adrienne. Hiu itu mengejar dan menjatuhkan batu yang melukai tangan Max; Sara menyalakan tongkat cahaya untuk memancing hiu itu, sehingga mereka berdua sempat mundur ke tempat yang lebih tinggi. Di bawah jalan keluar masih ada batu tajam dan air dangkal, dan saat itu air sedang surut, sehingga langsung melompat turun tidak aman. Mereka pun terpaksa tetap berada di dalam gua, menunggu air laut naik.

Jalan Keluar di Ketinggian dan Kematian Max

Selama menunggu, Max mengalami keruntuhan emosi karena rasa sakit, kehilangan James, dan takut sendirian. Sara memintanya untuk tidak lagi mengubah rencana, melainkan untuk pertama kalinya benar-benar mempercayai penilaiannya sendiri. Setelah air pasang naik, Sara lebih dulu memanjat ke jalan keluar dan mengikat tali di sisi luar, lalu membiarkan Max yang tangannya terluka naik menyusuri tali itu.

Keduanya berdiri di mulut batu yang tinggi memandangi permukaan air gua

Saat Max memanjat, hiu banteng melompat dari air dan menggigitnya. Tali yang mengikat pinggang keduanya ikut menyeret Sara ke bawah; Sara memotong tali itu dengan pisaunya agar tidak ikut jatuh ke air bersama Max. Max dibawa pergi oleh hiu itu, menjadi korban tewas terakhir dari kelima sahabat; Sara pun kehilangan jalan keluarnya semula dan terpaksa kembali ke bagian dalam gua untuk menghadapi hiu itu sendirian.

Ending

Sara teringat peringatan Wat tentang batu kapur yang rapuh. Ia tidak lagi berusaha mengalahkan kecepatan hiu banteng itu, melainkan memanfaatkan posisinya dan bercak darah di air untuk memancingnya, berulang kali mengarahkannya ke lapisan batu lemah yang menopang struktur gua. Saat hiu itu menyerang ke arahnya untuk terakhir kalinya, Sara berhasil menghindar tepat waktu; benturan itu menyebabkan runtuhan lokal, dan batu yang jatuh menimpa serta membunuh hiu tersebut. Pecahan batu juga mengenai Sara hingga membuatnya sempat kehilangan kesadaran.

Sara dengan wajah berlumuran darah merangkak keluar dari celah batu sempit

Setelah siuman, Sara terus mencari jalan dan memanjat ke atas melalui lubang gua lain yang lebih tinggi. Ia akhirnya sampai di atas bebatuan dekat pantai, melihat hutan, permukaan laut, dan langit di luar gua, lalu berteriak sekeras-kerasnya setelah memastikan dirinya sudah keluar dari gua bawah air. Sara adalah satu-satunya yang selamat dari rombongan yang memasuki gua itu; film ini tidak menampilkan kedatangan tim penyelamat maupun menjelaskan kapan ia dijemput, dan hanya berakhir dengan dirinya berdiri sendirian di jalan keluar.

Sara dengan wajah berlumuran darah mengangkat kedua tangan dan berteriak di mulut gua