← Kembali ke beranda

[REC] 3: Genesis

Sebuah pernikahan terkoyak oleh wabah yang datang tiba-tiba, sementara pengantin baru saling mencari di sebuah kompleks yang dikarantina: Ulasan lengkap [REC] 3: Genesis, dari resepsi yang berubah kacau, pelarian mereka secara terpisah, hingga ending di garis karantina

Judul

[REC] 3: Genesis

[REC]³ Génesis

Tahun / Durasi

2012 · 80 menit

Genre

Komedi / Thriller / Horor

Sutradara

Paco Plaza

Penulis

Luiso Berdejo, Paco Plaza

Rating

Pemeran

Leticia Dolera (sebagai Clara), Diego Martín (sebagai Koldo), Ismael Martínez (sebagai Rafa), Àlex Monner (sebagai Adrián)

[REC] 3: Genesis
Pengantin perempuan berkerudung duduk di dalam mobil sambil memegang buket bunga merah muda Para tamu pernikahan mengelilingi pengantin baru sambil menaburkan potongan kertas putih Perempuan bergaun pengantin dan laki-laki berjas menari berhadapan di depan para tamu Laki-laki dengan wajah berlumuran darah berdiri di dalam lokasi resepsi Laki-laki berkacamata hitam mengangkat peralatan kamera di dalam ruangan Seorang perempuan memandang keluar dari balik kisi-kisi logam
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

[REC] 3: Genesis adalah film horor Spanyol yang disutradarai Paco Plaza dan ditulis bersama Luiso Berdejo. Film ini dibintangi Leticia Dolera, Diego Martín, Ismael Martínez, Àlex Monner, dan lainnya. Film tersebut tayang di Spanyol pada Maret 2012 dan menurut IMDb berdurasi 80 menit. Kisahnya berlangsung kurang lebih bersamaan dengan peristiwa dalam dua film [REC] sebelumnya, tetapi kali ini lokasi wabah berpindah ke sebuah pernikahan.

Per 5 November 2026, film ini mendapat skor 5,0 di IMDb. Rotten Tomatoes mencatat 49 ulasan dengan tingkat kesegaran 45%. Penilaian kritikus profesional maupun penonton secara umum cenderung rendah. Banyak perbedaan pendapat berpusat pada keputusan film ini meninggalkan gaya kamera genggam yang terus digunakan dalam dua film sebelumnya, lalu beralih ke komedi berdarah dan pengambilan gambar konvensional.

Pernikahan yang Terekam Kamera

Clara dan Koldo melangsungkan pernikahan di hadapan keluarga serta teman-teman. Sepupu Koldo, Adrián, merekam seluruh acara dengan kamera video rumahan, sementara Atún, videografer pernikahan yang disewa, juga terus mengambil gambar. Paman Koldo, Víctor, adalah seorang dokter hewan. Tangannya terluka dan ia mengaku digigit anjing yang tiba-tiba mengamuk di klinik. Tak lama kemudian, mobil polisi dan orang-orang berhazmat terlihat di luar kompleks resepsi. Namun, para tamu mengira hanya ada kegiatan biasa di sekitar lokasi sehingga mereka tetap melanjutkan perayaan.

Pengantin perempuan berkerudung duduk di dalam mobil sambil memegang buket bunga merah muda

Setelah upacara pernikahan selesai, pengantin baru dan para tamu berkendara menuju sebuah kompleks di pedesaan. Kondisi Víctor berangsur memburuk. Mula-mula ia muntah, lalu kehilangan kendali di dekat pagar lantai dua. Orang-orang di lantai dansa masih menari, sementara kamera Adrián dan Atún juga tetap merekam suasana resepsi.

Para tamu pernikahan mengelilingi pengantin baru sambil menaburkan potongan kertas putih

Wabah Infeksi di Tengah Resepsi

Saat Koldo dan Clara merayakan pernikahan di lantai dansa, Víctor jatuh dari lantai atas ke atas meja. Begitu sadar, ia langsung menggigit istrinya yang mendekat, lalu memuntahkan darah ke arah tamu lain. Orang-orang yang diserang segera ikut menyerang orang di sekitar mereka. Infeksi menyebar dengan cepat di ruang resepsi yang penuh sesak, sedangkan Clara dan Koldo terpisah oleh kerumunan yang berhamburan.

Perempuan bergaun pengantin dan laki-laki berjas menari berhadapan di depan para tamu

Koldo bersembunyi di dapur bersama Adrián, Tita yang merupakan adik Clara, Atún, dan seorang petugas pemeriksa hak cipta. Atún masih bersikeras merekam, sehingga Koldo menghancurkan kameranya. Sejak saat itu, film ini juga tidak lagi hanya memakai rekaman dari kamera para tamu. Mereka menemukan saluran ventilasi, tetapi Atún tidak bisa melewatinya dan terpaksa ditinggalkan. Yang lain merangkak keluar, menemukan sebuah mobil polisi, tetapi kemudian diserang oleh para tamu dan petugas polisi yang sudah terinfeksi.

Laki-laki dengan wajah berlumuran darah berdiri di dalam lokasi resepsi

Koldo dan Clara Berjuang Terpisah untuk Bertahan Hidup

Kelompok Koldo melarikan diri ke sebuah kapel kecil yang sudah dipenuhi penyintas lain. Orang-orang yang terinfeksi tidak dapat melewati air suci di sekitar kapel. Melalui sistem pengeras suara kompleks, Clara memberi tahu Koldo bahwa dirinya masih hidup dan mengungkapkan bahwa ia sedang hamil. Koldo kemudian mengenakan zirah yang dipajang di kompleks itu, mengambil senjata, lalu meninggalkan kapel untuk kembali mencari Clara di ruang resepsi.

Laki-laki berkacamata hitam mengangkat peralatan kamera di dalam ruangan

Di tempat lain, Clara bersembunyi bersama pastor pernikahan di ruang pengawas dan menyaksikan berbagai serangan di area resepsi melalui layar. Setelah keberadaan mereka diketahui, keduanya melarikan diri dari ruangan itu, lalu bertemu Rafa dan Natalie, teman Clara asal Prancis. Ketika pastor membacakan doa, para korban terinfeksi yang mengejar mereka tiba-tiba membeku sehingga mereka dapat meloloskan diri. Koldo kemudian memasuki ruang pengawas yang sama, tetapi dari layar ia melihat Adrián, Tita, dan para penyintas di kapel diserang.

Seorang perempuan memandang keluar dari balik kisi-kisi logam

Clara Kembali ke Kompleks untuk Mencari Koldo

Natalie digigit saat melarikan diri, sehingga Clara dan Rafa harus terus bergerak keluar. Keduanya bertemu seorang penghibur anak-anak dari acara pernikahan, lalu berhadapan langsung dengan ibu Clara yang sudah terinfeksi. Penghibur itu menembaknya hingga jatuh, tetapi tak lama kemudian ia sendiri diterkam oleh korban terinfeksi. Clara dan Rafa memasuki terowongan yang mengarah ke luar kompleks dan sudah hampir mencapai pintu keluar. Namun, mereka mendengar Koldo memutar lagu pernikahan mereka dari arah ruang resepsi. Setelah memastikan Koldo masih hidup, Clara menolak pergi sendirian.

Di terowongan gelap, seorang perempuan membawa gergaji mesin sambil berjalan di samping seorang laki-laki

Clara menemukan sebuah gergaji mesin dan kembali bersama Rafa. Koldo juga kembali ke dapur dan mendapati Atún, yang ditinggalkan di sana, sudah meninggal setelah menyayat pergelangan tangannya. Ia kemudian membunuh Víctor yang muncul kembali dalam keadaan terinfeksi. Rafa digigit di dalam terowongan. Sebelum Rafa sepenuhnya kehilangan kendali, Clara terpaksa membunuhnya, lalu melanjutkan pencarian Koldo.

Di lantai terowongan, seorang perempuan bersepatu hak tinggi berlari sambil membawa gergaji mesin

Bertemu Kembali Setelah Membuka Jalan dengan Gergaji Mesin

Saat para korban terinfeksi menghalangi jalan, Clara melawan dengan gergaji mesin dan menerobos area resepsi serta lorong bawah tanah. Gaun pengantinnya berlumuran darah, tetapi ia terus bergerak mendekati dapur. Koldo mengambil pedang yang digunakan untuk memotong kue pernikahan, lalu dari sisi lain melawan para korban terinfeksi yang menghalangi jalannya.

Perempuan bergaun pengantin menendang laki-laki berlumuran darah di depan dinding bata

Keduanya akhirnya bertemu kembali di dapur, tetapi segerombolan korban terinfeksi segera mengepung mereka. Pastor kembali membacakan doa melalui pengeras suara dan para korban terinfeksi sekali lagi berhenti bergerak. Clara dan Koldo memanfaatkan kesempatan itu untuk berjalan melewati kerumunan, meninggalkan gedung, lalu berlari ke taman kompleks. Mereka bersiap menuju pintu keluar yang sudah diblokade pihak berwenang.

Pengantin baru berlumuran darah berpelukan di dapur sambil menoleh ke satu sisi

Ending

Di taman, kakek Koldo yang sudah terinfeksi tiba-tiba menyerang Clara. Orang tua itu tidak dapat mendengar doa dari pengeras suara, sehingga ia tidak berhenti bergerak seperti korban terinfeksi lainnya. Lengan Clara digigit dan Koldo segera memotong lengan bawahnya, tepat di bawah siku, dengan harapan mencegah penyebaran infeksi. Saat tiba di pintu keluar kompleks, mereka baru menyadari bahwa polisi dan pasukan khusus sudah memblokade lokasi. Petugas kemudian meminta Koldo dan Clara berpisah.

Laki-laki berwajah penuh darah membuka mulut sambil mendongakkan kepala, dengan bahu orang lain di bagian depan

Amputasi itu tidak menghentikan perubahan Clara. Ia mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan, tetapi Koldo tetap membantunya berjalan melewati garis karantina. Saat mereka berciuman di depan para petugas bersenjata, Clara yang telah berubah menggigit putus lidah Koldo, lalu berbalik menerjang petugas polisi. Pasukan khusus menembaki keduanya secara bersamaan. Mereka tersungkur setelah tertembak, tetapi pada detik-detik terakhir hidup mereka masih mengulurkan tangan untuk saling menggenggam.

Lengan berlumuran darah terjulur di atas tanah, sementara beberapa orang berdiri di belakangnya