← Kembali ke beranda

Greenland 2: Migration

Setelah bunker Greenland runtuh, sebuah keluarga melintasi Eropa yang porak-poranda untuk mencari kawah tumbukan: mengulas alur lengkap dan ending Greenland 2: Migration, dari evakuasi akibat tsunami, bertahan hidup di Liverpool dan London, hingga tiba di tempat tinggal baru.

Judul

Greenland 2: Migration

Tahun / Durasi

2026 · 98 menit

Genre

Aksi / Fiksi ilmiah / Thriller / Petualangan

Sutradara

Ric Roman Waugh

Penulis

Mitchell LaFortune, Chris Sparling

Rating

Pemeran

Gerard Butler (sebagai John Garrity), Morena Baccarin (sebagai Allison Garrity), Roman Griffin Davis (sebagai Nathan Garrity), Amber Rose Revah (sebagai Dr. Casey Amina), Trond Fausa (sebagai Adam Shaw), Nelia Valery (sebagai Camille)

Greenland 2: Migration
Sekelompok orang berdesakan di dalam ruangan bawah tanah yang remang-remang Banyak pecahan bercahaya melintas di langit di atas pegunungan Sekelompok besar orang mengungsi menyusuri lereng saat gelombang tinggi mendekati pantai di belakang mereka Para penyintas mendorong sekoci berwarna jingga di perairan dangkal Banjir menggenangi jalan di antara deretan bangunan yang rapat Empat orang berjaket tebal berdiri di tempat yang ramai sambil mengamati sekeliling
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Greenland 2: Migration adalah film bencana apokaliptik produksi Inggris dan Amerika Serikat yang disutradarai Ric Roman Waugh sekaligus sekuel Greenland. Gerard Butler dan Morena Baccarin kembali memerankan John dan Allison, sedangkan Roman Griffin Davis memerankan putra mereka, Nathan, yang kini sudah beranjak dewasa. Film berdurasi 98 menit ini tayang di Amerika Serikat pada 9 Januari 2026 dan di Tiongkok daratan pada 31 Januari.

Per 11 Oktober 2026, film ini mendapat skor 5,2 di IMDb dari 49.711 suara. Dari 106 ulasan kritikus yang dihimpun Rotten Tomatoes, 48% memberikan penilaian positif, sedangkan Popcornmeter dari penonton terverifikasi mencapai 66% berdasarkan lebih dari 1.000 penilaian. Tanggapan kritikus dan penonton menunjukkan perbedaan, tetapi secara keseluruhan ulasannya beragam.

Tahun Kelima di Dalam Bunker

Lima tahun setelah komet Clarke menghantam Bumi, peradaban masih belum pulih. Badai elektromagnetik, debu radioaktif, pecahan komet yang terus berjatuhan, dan gempa bumi membuat permukaan Bumi sewaktu-waktu kembali mematikan. Keluarga Garrity tinggal di bunker bawah tanah dekat Pangkalan Udara Thule di Greenland: Allison ikut mengelola komunitas, John bertugas melakukan pengintaian dan pemeliharaan, sedangkan Nathan yang kini berusia lima belas tahun ingin menjadi pengintai.

Sekelompok orang berdesakan di dalam ruangan bawah tanah yang remang-remang

Dr. Amina terus meneliti perubahan kondisi di luar. Di antara para penyintas beredar kabar bahwa kawah tumbukan komet Clarke di dekat Prancis selatan mungkin sudah bebas dari radiasi kuat dan badai energi, bahkan tanaman mungkin kembali tumbuh di sana. Sebelum penghuni bunker sempat memutuskan apakah mereka akan pergi, hujan pecahan komet dan aktivitas geologis baru membuat mereka tidak punya waktu lagi untuk memilih.

Banyak pecahan bercahaya melintas di langit di atas pegunungan

Gempa dan Tsunami Menghancurkan Tempat Perlindungan

Gempa berturut-turut membelah bunker dan membuat struktur di dalamnya mulai runtuh, sehingga para penyintas terpaksa segera mengungsi ke permukaan. John, Allison, dan Nathan berhasil keluar bersama di tengah kekacauan, disusul Adam Shaw, Dr. Amina, dan yang lainnya. Keteraturan yang sebelumnya dijaga bunker runtuh dalam hitungan menit, dan semua orang hanya bisa berlari menuju pantai.

Sekelompok besar orang mengungsi menyusuri lereng saat gelombang tinggi mendekati pantai di belakang mereka

Tsunami yang menyusul kemudian menenggelamkan fasilitas itu dan menewaskan sebagian besar orang yang melarikan diri. Keluarga Garrity dan beberapa penyintas menemukan sekoci lalu meninggalkan pantai sebelum gelombang besar menelan pangkalan. Bunker Greenland hancur sepenuhnya, sehingga mereka harus menyeberangi Atlantik Utara untuk mencari pos di Eropa yang mungkin masih dapat menerima orang.

Para penyintas mendorong sekoci berwarna jingga di perairan dangkal

Tiba di Liverpool yang Terkepung Banjir

Sekoci mereka akhirnya kandas di pesisir Inggris, dan para penyintas dengan susah payah mencapai Liverpool yang terbelah oleh banjir. Bunker lain di kota itu dijaga orang-orang bersenjata. Warga setempat berusaha menerobos masuk ke fasilitas perlindungan dan baku tembak pun segera pecah. Adam tertembak dan tewas dalam bentrokan tersebut, sementara rombongan dari Greenland tercerai-berai di tengah badai dan kerumunan.

Banjir menggenangi jalan di antara deretan bangunan yang rapat

John, Allison, Nathan, dan Amina masih tetap bersama. Mereka tidak menemukan tempat aman di Liverpool sehingga harus terus bergerak ke selatan. Kelompok-kelompok di kota berebut sumber daya yang tersisa, sementara badai super yang kian mendekat membuat bertahan di sana semakin berbahaya. Tujuan keluarga itu perlahan beralih ke London dan kawah tumbukan di Prancis yang lebih jauh lagi.

Empat orang berjaket tebal berdiri di tempat yang ramai sambil mengamati sekeliling

Perjalanan Menuju London

Obi, seorang penyintas setempat, bersedia mengantar mereka berempat ke Dover. Dalam perjalanan, pecahan komet Clarke yang masih berada di orbit kembali menghantam permukaan, dan Obi tewas dalam serangan itu. Keluarga Garrity dan Amina kehilangan kendaraan sehingga harus mencari jalur berikutnya di antara jalan yang rusak dan kawasan hutan.

Dua pria berhenti berjalan, satu di depan yang lain, di kawasan hutan

Mereka kemudian bertemu para penjarah bersenjata yang menghadang jalan. Amina tertembak dan tewas dalam bentrokan itu, sehingga keluarga Garrity harus meneruskan sendiri penelitian dan harapan mengenai kawah tersebut. Allison, John, dan Nathan kembali kehilangan rekan seperjalanan, tetapi tetap mengikuti rute ke selatan hingga tiba di London.

Seorang perempuan berambut hitam menatap ke depan dengan ekspresi kesakitan

Persinggahan Singkat di London dan Penyakit John

Keluarga itu menemukan kenalan lama mereka, Mackenzie, di London. Bersama sekelompok penyintas, Mackenzie menjaga sebuah fasilitas perawatan gangguan ingatan yang memiliki makanan, kamar, dan kehidupan yang untuk sementara stabil. Setelah lama melarikan diri, Allison sempat ingin menetap agar Nathan tidak perlu terus menghadapi bahaya.

Seorang perempuan tua berambut putih mendongak dan berbicara di dalam ruangan

Di sana Allison juga mengetahui bahwa John terpapar radiasi berlebihan selama lima tahun melakukan pengintaian di luar dan kondisinya sudah tidak dapat dipulihkan. Allison semakin ingin suaminya tinggal dan beristirahat, tetapi John menganggap perlindungan di London hanya sementara. Ia bersikeras mengantar istri dan putranya ke Prancis selatan sebelum hidupnya berakhir. Mereka bertiga pun meninggalkan fasilitas itu dan melanjutkan perjalanan ke Dover.

Seorang pria berjanggut berbaring telentang di ruangan yang remang-remang

Menyeberangi Selat Inggris dan Calais

Perubahan permukaan laut mengubah Selat Inggris menjadi hamparan tandus luas yang kering dan berangin, sementara tanahnya terbelah oleh parit dalam dan patahan. Keluarga Garrity mengikuti para pengungsi lain menuju Prancis. Saat menemukan jurang yang tidak dapat diseberangi secara langsung, mereka terpaksa memanjat rangkaian tangga logam yang disambungkan untuk melintasinya.

Dua tangga logam membentang di atas jurang berbatu sementara beberapa orang merangkak di atasnya

Setelah mereka tiba di Calais, seorang penyintas Prancis bernama Denis Laurent dan keluarganya memberi mereka tempat tinggal. Denis mengetahui bahwa wilayah menuju kawah sedang dilanda pertempuran dan mencemaskan putrinya, Camille, yang tidak memiliki masa depan jika tetap tinggal di sana. Ia meminta keluarga Garrity membawa Camille agar putrinya berkesempatan memasuki zona aman yang hanya mereka dengar dari kabar.

Beberapa orang dewasa duduk bersandar di ruangan redup yang dipenuhi berbagai barang

Garis Depan di Luar Kawah

John, Allison, Nathan, dan Camille terus bergerak ke selatan hingga mencapai garis depan militer yang melindungi wilayah kawah. Berbagai kelompok bersenjata memperebutkan jalan menuju zona aman, sedangkan parit, kendaraan, dan perkemahan sementara memenuhi tanah tandus. Setelah memastikan tujuan mereka, pasukan penjaga membawa keempatnya ke belakang garis pertahanan dan menyediakan kendaraan agar mereka dapat melanjutkan perjalanan.

Seseorang bertopi dan membawa senjata berjaga di kawasan hutan berlumpur

Kendaraan yang membawa mereka disergap di tengah perjalanan. John melawan para penyerang untuk melindungi keluarganya dan Camille, tetapi ia sendiri juga tertembak. Yang lain menghentikan pendarahannya lalu kembali melanjutkan perjalanan. Penyakit radiasi yang diderita John sudah mengarah pada kematian, dan kini ia mendekati tahap terakhir perjalanan dengan luka tembak.

Beberapa orang mengelilingi seorang pria yang terbaring di tanah

Ending

Mereka berempat akhirnya tiba di kawah tumbukan komet Clarke. Bagian dalam kawah sangat berbeda dari tanah tandus yang mereka lalui: langit tidak lagi tertutup debu, air danau jernih, lembah diselimuti tumbuhan hijau, dan para penyintas sudah mulai bercocok tanam. Dugaan Amina bahwa wilayah tumbukan mampu menangkal badai energi dan memungkinkan ekosistem kembali tumbuh pun terbukti benar.

Ladang, rumah, dan beberapa danau tersebar di lembah hijau yang dikelilingi pegunungan

John akhirnya tidak sanggup bertahan lagi ketika lembah aman itu sudah di depan mata. Setelah memastikan Allison, Nathan, dan Camille dapat memulai hidup baru di sana, ia meninggal akibat luka tembak. Allison dan Nathan kehilangan John, tetapi mereka telah menyeberangi lautan, reruntuhan kota, selat, dan zona perang hingga mencapai tempat tinggal baru yang memungkinkan mereka bertahan hidup dalam jangka panjang. Film berakhir saat mereka menetap di kawah yang kembali dipenuhi kehidupan.

Seorang pria berjanggut dengan mata memerah bersandar pada orang lain sementara sebuah tangan mendekati wajahnya