← Kembali ke beranda

Ghost Train

Seorang vlogger horor menerobos masuk ke stasiun kereta bawah tanah yang seharusnya tidak dia jamah: alur cerita lengkap film Ghost Train, sekuel kedua dari seri horor Korea Goedam, tempat sebuah stasiun kereta bawah tanah tua yang berhantu menyimpan rahasia yang jauh lebih mengerikan daripada hantu itu sendiri

Judul

Ghost Train

괴기열차

Tahun / Durasi

2025 · 94 menit

Genre

Misteri / Thriller / Horor

Sutradara

Se-woong Tak

Penulis

Jo Ba-Reun

Rating

Pemeran

Joo Hyun-young, Jeon Bae-soo, Choi Bo-min

Ghost Train
Da-kyeong berdiri di peron stasiun, cahaya berwarna dingin menyorot wajahnya yang waspada Da-kyeong menoleh ketakutan di dalam stasiun kereta—di papan iklan di belakangnya terpampang wajah gadis lain Wajah yang dipenuhi bunga—salah satu pemandangan supernatural paling meresahkan di Stasiun Gwanglim Sosok wanita berambut panjang muncul di dalam gerbong kereta yang kosong Mesin penjual otomatis yang berlumuran darah—jejak teror di kedalaman Stasiun Gwanglim
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Film ini adalah karya kedua dalam seri horor Korea Goedam. Setelah Ghost Mansion, latar cerita berpindah dari apartemen berhantu ke sebuah stasiun kereta bawah tanah yang sudah tidak terpakai—Stasiun Gwanglim.

Da-kyeong (diperankan oleh Joo Hyun-young) adalah seorang vlogger YouTube yang khusus membuat konten horor. Di era yang serba mengejar penonton ini, dia mempertahankan channel-nya dengan memfilmkan legenda urban, eksplorasi bangunan terbengkalai, dan pengalaman supernatural. Namun persaingan sangat ketat—seorang beauty vlogger dari agensi yang sama perlahan menyalip jumlah pengikutnya. Da-kyeong butuh topik yang cukup heboh untuk merebut kembali perhatian penonton.

Legenda Stasiun Gwanglim adalah bahan yang selama ini dia cari.

Da-kyeong berdiri di peron stasiun, cahaya berwarna dingin menyorot wajahnya yang waspada

Stasiun Gwanglim

Stasiun Gwanglim sudah lama berhenti beroperasi. Alasan penutupannya simpang siur, tapi versi yang paling banyak beredar adalah: stasiun ini pernah mengalami serangkaian kasus penumpang yang menghilang tanpa jejak. Seseorang menunggu kereta di peron, pintu kereta menutup setelah kereta tiba, dan orang itu tidak pernah terlihat lagi. Tidak ada rekaman CCTV yang bisa menjelaskan ke mana mereka pergi.

Da-kyeong memutuskan untuk masuk lebih dalam ke Stasiun Gwanglim dan syuting langsung di lokasi. Dia menghubungi mantan manajer stasiun (diperankan oleh Jeon Bae-soo), pria paruh baya yang pendiam dengan tatapan mata yang sulit ditebak. Manajer itu setuju membawanya masuk ke bagian dalam Stasiun Gwanglim yang sudah bertahun-tahun ditutup, sekaligus menceritakan kisah-kisah orang yang menghilang di sana.

Da-kyeong menoleh ketakutan di dalam stasiun kereta—di papan iklan di belakangnya terpampang wajah gadis lain

Tiga Kisah

Film ini memakai struktur bertutur seperti kumpulan cerita hantu (goedam). Di peron dan terowongan Stasiun Gwanglim yang gelap, sang manajer menceritakan kepada Da-kyeong tiga kisah horor yang berkaitan dengan stasiun ini, dan masing-masing kisah berkaitan dengan satu kasus kehilangan yang benar-benar terjadi.

Kisah pertama bercerita tentang seorang karyawan kantoran yang naik kereta terakhir sendirian setelah lembur hingga larut malam. Kereta berhenti secara tidak wajar di Stasiun Gwanglim, dan gerbong itu hanya menyisakan dirinya seorang. Pintu kereta terbuka, tapi pemandangan di peron sama sekali berbeda dari yang dia ingat—lampu berkedip-kedip, dan udara dipenuhi bau busuk. Dia turun dari kereta, lalu tidak pernah kembali.

Kisah kedua lebih aneh lagi. Seorang wanita muda menemukan cermin yang seharusnya tidak ada di toilet Stasiun Gwanglim. Pantulan di cermin itu bukan wajahnya sendiri, melainkan sebuah wajah yang dipenuhi bunga—indah sekaligus mengerikan. Saat dia mencoba keluar, pintu toilet itu sudah menghilang.

Wajah yang dipenuhi bunga—salah satu pemandangan supernatural paling meresahkan di Stasiun Gwanglim

Kisah ketiga paling panjang sekaligus paling rumit. Kisah ini menyangkut sejarah kelam masa pembangunan Stasiun Gwanglim—sebuah kelompok sesat pernah menjadikan stasiun kereta bawah tanah ini sebagai markas untuk pertemuan rahasia mereka. Beberapa pekerja yang ikut membangun stasiun ini meninggal secara misterius setelah pembangunan selesai, dan penyebab kematian mereka ditutup-tutupi begitu saja, padahal kebenarannya jauh lebih mengerikan daripada catatan resmi.

Siaran Langsung

Seiring cerita sang manajer semakin mendalam, Da-kyeong perlahan menyadari bahwa kisah-kisah ini mungkin bukan sekadar “cerita”. Manajer itu memahami setiap detail dengan cara yang tidak wajar, seolah dia menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri—bahkan ikut terlibat di dalamnya.

Sosok wanita berambut panjang muncul di dalam gerbong kereta yang kosong

Awalnya Da-kyeong berencana menjadikan penjelajahan ini sebuah video biasa, tapi atas saran sang manajer, dia memutuskan untuk melakukan siaran langsung. Sambil memegang ponselnya, dia melangkah masuk ke bagian paling dalam Stasiun Gwanglim, area yang belum pernah dibuka untuk umum. Jumlah penonton di siaran langsungnya melonjak, dan kolom komentar dipenuhi seruan kagum dan jeritan.

Namun saat dia sampai di ujung terowongan, dia menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Itu bukan hantu, bukan pula monster dari legenda urban, melainkan sesuatu yang benar-benar nyata, terorganisir, dan telah lama beroperasi di stasiun terbengkalai ini… sesuatu yang lain.

Mesin penjual otomatis yang berlumuran darah—jejak teror di kedalaman Stasiun Gwanglim

Kereta Terakhir

Da-kyeong akhirnya mengerti mengapa sang manajer begitu memahami kisah-kisah orang yang menghilang itu. Dia bukan sekadar penutur cerita, melainkan seorang pelaku. Di balik legenda kehilangan orang di Stasiun Gwanglim selama bertahun-tahun itu, tersimpan kebenaran yang jauh lebih mengerikan daripada fenomena supernatural.

Siaran langsung Da-kyeong masih terus berjalan, dan ratusan ribu penonton di layar masing-masing menyaksikan semuanya secara real-time. Namun mereka mengira sedang menonton acara horor yang sudah disiapkan dengan matang. Tidak ada yang menyadari bahwa ketakutan gadis di layar itu nyata adanya.

Da-kyeong dulu memanfaatkan ketakutan orang lain lewat video horor demi mengejar penonton. Sekarang, dia sendiri yang menjadi objek yang dimanfaatkan. Di kedalaman Stasiun Gwanglim, hubungan antara pemburu dan mangsa telah berbalik—sementara para penonton di depan layar, dengan puas menekan tombol suka.