Ghost in the Cell
Seorang jurnalis membawa hantu pencabut nyawa dari hutan Kalimantan ke dalam lapas yang korup: alur cerita lengkap Ghost in the Cell, tentang para napi yang bertahan hidup lewat doa, tarian, dan kerja sama
Judul
Ghost in the Cell
Judul lain: Hantu Dalam Sel
Tahun / Durasi
2026 · 106 menit
Genre
Komedi / Aksi / Thriller / Horor
Sutradara
Joko Anwar
Penulis
Joko Anwar
Rating
Pemeran
Endy Arfian (sebagai Dimas), Abimana Aryasatya (sebagai Anggoro), Yoga Pratama (sebagai Six), Bront Palarae (sebagai Jefri), Aming Sugandhi (sebagai Tokek)
Ghost in the Cell adalah film Indonesia tahun 2026 yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Joko Anwar, dibintangi Endy Arfian, Abimana Aryasatya, Yoga Pratama, Bront Palarae, dan Aming Sugandhi. Film ini digarap oleh sejumlah rumah produksi Indonesia bersama perusahaan Korea Barunson E&A, memadukan genre komedi, aksi, thriller, dan horor, dengan durasi 106 menit.
Film ini tayang perdana di dunia pada 13 Februari 2026 di seksi Forum Festival Film Internasional Berlin, lalu tayang di bioskop Indonesia pada 16 April 2026. Hingga 12 September 2026, film ini meraih nilai 6,7 di IMDb dari 2.944 penilai.
Laporan dari Hutan Lindung di Kalimantan
Jurnalis Dimas sedang merapikan laporan investigasinya dari Kalimantan. Sepuluh ribu hektare lahan di hutan lindung itu ditambang nikel secara ilegal, dan para investornya melibatkan pejabat pemerintah; data yang ia cantumkan di awal laporan menunjukkan sembilan pekerja sudah tewas secara janggal di sana. Dimas pernah berkendara tujuh jam dari Balikpapan untuk masuk ke hutan itu, lalu melihat tubuh para korban dibelah dan digantung di pohon. Ia menjadikan kematian para pekerja sebagai fokus laporannya, kemudian menunggu persetujuan pemimpin redaksi Endy agar tulisannya bisa terbit.
Koran itu sedang sulit secara bisnis, dan Endy menilai Dimas menulisnya seperti kasus pembunuhan sensasional, jadi ia meminta Dimas mengubah sudut pandangnya ke pembalakan liar, tambang nikel, serta kaitannya dengan orang-orang berkuasa. Setelah itu, Endy bertengkar dengan istrinya lewat telepon dan emosinya makin memuncak. Ketika ia beranjak dari cermin, bayangannya di cermin justru tidak ikut bergerak; sesaat kemudian kekuatan tak kasatmata membunuhnya dan menggantung jasadnya di kipas angin langit-langit. Dimas yang kemudian masuk ke ruangan itu dianggap sebagai pelaku, lalu dijebak, divonis bersalah, dan dikirim ke penjara.

Lapas Labuhan Angsana
Dimas dimasukkan ke Blok C Lapas Labuhan Angsana. Di sana ditahan para pencuri, penipu, dan pembunuh; napi bergerak dalam geng, dan jaringan bandar narkoba Rendra masih beroperasi dari dalam lapas. Di sisi lain ada Blok K yang khusus menampung koruptor berpengaruh: selnya dilengkapi kulkas, televisi, pendingin ruangan, dan internet, penghuninya boleh memegang ponsel dan bisa keluar lapas sesuka hati, bahkan ada napi bayaran yang menjadi pengawal di depan pintu.

Dimas berkeliling mengenal lapas bersama Irfan dan berkenalan dengan Pendi, mantan dosen; Wildan yang rajin beribadah; Six yang sudah lama menderita sakit kepala; serta Anggoro. Rumah Anggoro sebenarnya punya sertifikat, tetapi tetap dirampas mafia tanah untuk dijadikan resor, dan ia dipenjara setelah merampok otak di balik perampasan itu. Perkelahian yang berulang membuat masa hukumannya terus bertambah: ia seharusnya bebas tahun lalu, tetapi masih tersisa tujuh bulan. Kedua anaknya datang menjenguk, cemas ibu mereka akan berkeluarga lagi dengan rekan kerjanya di toko roti, sekaligus meminta sang ayah berhenti cari masalah supaya mereka tidak terus bertemu di balik jeruji.

Kepala lapas Sapto menjilat para napi Blok K sekaligus melindungi peredaran narkoba dan kekerasan di Blok C. Jefri, sipir yang mengurus pembinaan, kerap memukuli dan mempermalukan napi, bahkan mengancam akan memperpanjang hukuman siapa pun yang melawan. Sapto menerima perintah dari atasannya agar Dimas mati tanpa meninggalkan jejak; Jefri lalu menempatkannya di sel nomor 31, satu kamar dengan Tokek, algojo milik Rendra. Semua teman sekamar Tokek sebelumnya tewas dibunuh, tetapi malam itu ia sudah terlalu mabuk untuk bergerak saat hendak beraksi, sehingga Dimas untuk sementara selamat melewati malam pertamanya.

Mayat yang Dipajang
Keesokan harinya, Tokek kembali mendesak Dimas di kamar mandi, tetapi Anggoro turun tangan menghalanginya. Ketika Tokek tinggal sendirian di sana, ia melihat bayangannya di cermin berubah menjadi sosok yang janggal; kekuatan tak kasatmata lalu mematahkan lengannya dan menembus kedua matanya. Saat napi lain berdatangan, tubuhnya sudah terurai dan dipasang pada instalasi pancuran, dengan air mengalir melewati potongan-potongan jasadnya.

Sapto khawatir penyelidikan polisi akan membongkar bisnis gelap di dalam lapas, jadi ia menolak melapor dan menyuruh Jefri sendiri yang mencari pelakunya. Jefri menuding kelompok Anggoro sebagai tersangka: ia tidak hanya menginterogasi dan memukuli para napi, tetapi juga menghentikan jatah makan serta memutus air dan listrik untuk memaksa mereka menyerahkan orangnya. Saat itu Anton, napi yang bekerja di dapur, sedang marah karena istrinya membawa kabur seluruh tabungan mereka, dan Six melihat cahaya seperti kabut merah muncul di sekelilingnya. Tidak lama kemudian Anton juga dibunuh oleh kekuatan tak kasatmata, jasadnya diurai lalu dipajang mengelilingi tungku dapur. Rentetan pembunuhan itu tetap ditutupi pihak lapas, sementara para napi Blok C terus menjalani hukuman kolektif.
Aura dan Kelas Tari
Setelah sakit kepalanya mendadak hilang, Six mulai melihat aura dengan warna berbeda-beda di sekeliling setiap orang. Ia teringat aura Tokek dan Anton sama-sama merah darah sebelum keduanya tewas, dan dari situ semua menyimpulkan bahwa hantu itu mendekati orang dengan emosi negatif paling kuat saat itu. Wildan mengusulkan bahwa perbuatan baik seperti berdoa dan membersihkan tempat dengan tulus, serta kegiatan seni seperti melukis, menyanyi, dan menari, bisa menenangkan aura untuk sementara. Begitu kabar itu menyebar, ruang ibadah penuh sesak oleh napi, sehingga sisanya terpaksa berbondong-bondong masuk ke kelas tari yang dipimpin Novilham.

Orang-orang itu sebenarnya tidak benar-benar menguasai tarian; mereka baru bergerak tergesa-gesa ketika Six melihat aura seseorang berubah berbahaya. Gerakan yang berantakan membuat Novilham sangat frustrasi, sampai ia mengusir semua orang dari kelas dan melanjutkan menari sendirian. Sanggar tari milik Novilham dulu pernah dibongkar, dan lahannya diubah menjadi kantor pusat sebuah partai politik; kekecewaan dari pengalaman itu tidak ikut hilang meski ia menari. Six melihat auranya berubah cokelat pekat, lalu semua orang mendengar keributan, dan ketika kembali ke kelas mereka menemukan Novilham pun sudah tewas.
Kematian Novilham menunjukkan bahwa hantu itu tidak hanya mencari orang yang sedang marah, melainkan siapa pun yang auranya paling negatif saat itu. Six juga menyadari bahwa hanya aura Dimas yang tidak bisa ia lihat. Dimas teringat jasad-jasad yang dibuat menjadi pajangan di hutan lindung itu, bentuknya sama persis dengan pembunuhan di dalam lapas; setelah ia meninggalkan Kalimantan, tidak ada lagi korban baru di hutan tersebut. Dari situ semua memastikan bahwa hantu itu berasal dari hutan lindung di Kalimantan dan mengikuti Dimas sampai ke Jakarta.
Doa dan Langkah Tari di Tengah Perkelahian
Bimo, anak buah Rendra, yakin rentetan pembunuhan itu bisa dihentikan asal Dimas dibunuh, tetapi Anggoro menolak menyerahkannya, sehingga kedua kubu berkelahi di lorong sel. Begitu Six melihat aura Anggoro berubah merah, Anggoro langsung menari di sela-sela pukulannya sampai auranya kembali aman. Aura Bimo pun perlahan ikut memerah; mulanya ia tidak mau menari, tetapi setelah melihat sosok hantu itu muncul ia berdoa sambil terus berkelahi, dan sama-sama lolos dari serangan.

Setelah bentrokan itu mereda sementara, Anggoro mengusulkan semua geng harus berusaha bertahan hidup bersama-sama. Pendi pun berhenti berpura-pura menjadi orang tua yang pikun dan mulai memakai pengetahuannya untuk menganalisis hantu itu serta situasi lapas. Jefri datang untuk menekan para napi dan merendahkan Anggoro dengan konsep psikologi yang sudah usang; Pendi menegaskan bahwa teori itu sudah lama tidak dipakai lagi, sekaligus membongkar bahwa Jefri terus memamerkan kekuasaannya hanya untuk menutupi rasa rendah dirinya. Jefri naik pitam, mengancam tidak akan membiarkan siapa pun keluar dari penjara, dan menyangkal adanya aura maupun hantu.

Begitu amarah Jefri mencapai puncaknya, hantu itu membunuhnya tepat di depan mata para napi. Setelah menyaksikan kejadian itu, Bimo dan kawan-kawannya menerima usul Anggoro dan berhenti memperebutkan Dimas. Geng-geng yang tadinya saling bermusuhan akhirnya sepakat bersatu untuk mencari tahu siapa yang sebenarnya diincar hantu itu.

Target Sebenarnya di Blok K
Setelah Jefri tewas, Sapto mengangkat sipir lain sebagai penggantinya dan memintanya hanya membawa orang-orang yang bisa dipercaya untuk menjalankan satu rencana rahasia. Sementara itu para napi Blok C menata ulang rangkaian pembunuhan: hantu itu mampu menyusun jasad menjadi pajangan yang tertata, berarti ia punya tujuan yang jelas; ia terus berada di dekat Dimas tetapi belum juga menuntaskan tujuannya, mungkin karena sasarannya memang tidak ada di Blok C.

Seorang sipir memberi tahu mereka bahwa Prakasa, koruptor penghuni Blok K, justru penanggung jawab tambang nikel ilegal di Kalimantan itu, dan ia sering keluar lapas untuk pergi ke resor di sana. Anggoro, Bimo, Six, Dimas, Pendi, Irfan, dan yang lain pun masuk ke Blok K lewat bagian belakang. Anggoro dan Bimo bertugas menahan para sipir dan pengawal pribadi, Six mengamati aura semua orang, sedangkan Irfan menghubungi Prakasa lewat ponsel untuk mendorong emosinya sampai ke titik yang bisa didekati hantu itu.

Irfan berturut-turut menyamar sebagai petugas lembaga antikorupsi dan sebagai simpanan Prakasa, memancing amarahnya lewat status hukumannya dan kehidupan pribadinya. Prakasa sempat bereaksi sebentar, tetapi cepat kembali tenang. Pada saat yang sama, perkelahian di lorong terus berlangsung, dan begitu Six mengingatkan bahwa aura seseorang memerah, orang itu langsung meredakan emosinya dengan doa atau langkah tari.

Irfan kemudian menemukan sebuah video unjuk rasa lama. Prakasa muda dulu terang-terangan menentang korupsi dan ingin mengubah negaranya. Irfan menelepon lagi, kali ini berperan sebagai Prakasa muda, dan pelan-pelan mengungkit cita-cita yang dulu ia pegang, hak istimewa yang kemudian ia nikmati di penjara, serta janji kepada ibunya yang ia ingkari. Prakasa tidak lagi mampu menahan diri dan mulai membanting barang di sel mewahnya; hantu itu muncul dengan wujud dirinya sewaktu muda, lalu membunuhnya. Six langsung memastikan bahwa hantu itu sudah lenyap.

Sapto lalu mengurung para napi Blok C di satu tempat dan berniat membakar mereka untuk menghilangkan saksi. Lima sipir yang terlibat dalam rencana itu tidak memakai bahan bakar seperti yang diperintahkan, melainkan sudah lebih dulu menggantinya dengan air; setelah Sapto gagal menyalakan api, mereka meringkusnya.
Ending
Enam bulan kemudian, rekaman CCTV yang sempat hilang muncul kembali, dan gambarnya jelas membuktikan Dimas tidak berada di ruangan itu saat Endy dibunuh. Banding Dimas segera mendapat putusan akhir: ia dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan. Sebelum pergi, ia mendatangi Blok C untuk berpamitan dengan Anggoro dan yang lain, yang sedang berkumpul mengelilingi meja sambil bermain catur.

Saat itu Six akhirnya bisa melihat aura Dimas, warnanya keemasan. Dimas tidak langsung pulang, melainkan bersiap kembali ke hutan lindung di Kalimantan; menurutnya hantu itu mungkin masih terhubung dengan dirinya, sehingga ia bisa membawanya pulang ke tempat asalnya. Masa hukuman Anggoro juga tinggal satu bulan, dan selama tidak ada tambahan hukuman lagi, ia bisa segera berkumpul kembali dengan anak-anaknya. Dimas memanggul tasnya dan berjalan keluar dari area sel, sementara yang lain tetap berada di dalam pintu, menatap kepergiannya.
