← Kembali ke beranda

Feed

Enam kreator konten terjebak di pulau tengah danau yang diselimuti legenda penyihir: alur cerita lengkap film Feed, tentang perjalanan pembuatan video promosi kamp ekologi yang berubah menjadi mimpi buruk yang mematikan

Judul

Feed

Tahun / Durasi

2022 · 100 menit

Genre

Horor

Sutradara

Johannes Persson

Penulis

Paolo Vacirca / Henry Stenberg / Filip Hammarström

Rating

Pemeran

Molly Nutley (sebagai Elin), Sofia Kappel, Vincent Grahl, Joel Lützow

Feed
Pacar Elin dan Elin berswafoto ke kamera — perjalanan ini awalnya penuh kebahagiaan ala media sosial Dua orang duduk di depan tenda seadanya — kamp ekologi ini jauh dari kesan mewah seperti yang dibayangkan Seorang gadis duduk di dermaga tepi danau — air danau tenang dengan cara yang mengganggu Elin berdiri di depan pondok kayu merah dengan ransel di punggung, waspada mengawasi sekeliling Elin menatap ke depan melalui jendela mobil — setelah semua yang dialaminya, tatapannya sudah sepenuhnya berubah
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Elin (diperankan oleh Molly Nutley) bukan seorang influencer. Dia hanya ikut pacarnya yang seorang influencer. Pacarnya dan sekelompok temannya yang juga aktif di media sosial mendapat tawaran kerja sama komersial yang terlihat menggiurkan: sebuah “kamp ekologi” yang baru dibuka membutuhkan konten promosi, dengan akomodasi dan transportasi gratis sepenuhnya — mereka hanya perlu menginap satu akhir pekan di sebuah pulau kecil di tengah danau, membuat beberapa video, dan mengunggah beberapa unggahan.

Kedengarannya seperti pekerjaan yang santai dan menyenangkan.

Enam orang berangkat dengan penuh semangat. Mereka membawa peralatan kamera profesional, pakaian outdoor yang serasi, dan tongkat swafoto yang baterainya selalu penuh. Bagi anak-anak muda yang menggantungkan hidup dari jumlah pengikut ini, sebuah pulau terpencil di tengah danau di Swedia jelas merupakan gudang konten alami.

Pacar Elin dan Elin berswafoto ke kamera — perjalanan ini awalnya penuh kebahagiaan ala media sosial

Penyihir Märit

Setibanya di pulau, pemilik kamp menceritakan sebuah legenda setempat sebelum pergi: pada abad ke-17, seorang perempuan bernama Märit dihukum karena dituduh sebagai penyihir. Dia dipasangi topeng besi lalu diasingkan ke pulau ini. Konon, arwahnya masih berkeliaran di pulau itu hingga sekarang, dengan topeng besi berkarat itu masih melekat di wajahnya.

Anak-anak muda itu hanya tertawa. Mereka justru menganggap cerita ini sebagai bahan konten yang bagus — pas untuk menambah nuansa misteri dan horor pada video mereka. Mereka bahkan menyusun beberapa rencana pengambilan gambar berdasarkan legenda penyihir itu.

Pemilik kamp pergi naik perahu. Perahu berikutnya baru datang keesokan harinya. Keenam orang itu tertinggal di pulau, tanpa perahu, tanpa sinyal, hanya ditemani satu sama lain dan sebuah legenda tentang penyihir.

Dua orang duduk di depan tenda seadanya — kamp ekologi ini jauh dari kesan mewah seperti yang dibayangkan

Malam Pesta

Malam pertama, suasananya seperti pesta. Mereka minum, menari, dan syuting berbagai konten di sekitar api unggun. Ada yang bercanda menirukan sosok penyihir untuk menakuti yang lain. Alkohol membuat semua orang lengah.

Tapi Elin merasa ada yang tidak beres. Berbeda dari yang lain, dia tidak terlalu terpaku pada kamera dan jumlah pengikut, dan lebih jeli mengamati sekelilingnya. Dia memperhatikan beberapa hal yang seharusnya tidak ada di sebuah “kamp yang baru dibangun” — jejak-jejak yang terlihat sudah tua, tanda-tanda yang tidak seperti bekas aktivitas baru-baru ini.

Ketika malam benar-benar turun, suara-suara aneh mulai terdengar dari hutan.

Seorang gadis duduk di dermaga tepi danau — air danau tenang dengan cara yang mengganggu

Mimpi Buruk Dimulai

Suasana pesta dan tawa tiba-tiba berhenti begitu saja. Ada yang mulai menghilang. Ada yang melihat sosok yang seharusnya tidak ada di kegelapan — siluet manusia bertopeng besi.

Awalnya, mereka mengira itu ulah teman yang jahil. Tapi ketika mayat pertama ditemukan, rasa takut memadamkan semua tawa seperti air es. Mereka sadar, legenda yang diceritakan pemilik kamp mungkin bukan sekadar cerita.

Elin berdiri di depan pondok kayu merah dengan ransel di punggung, waspada mengawasi sekeliling

Tidak ada perahu di pulau itu, dan ponsel tidak ada sinyal. Mereka terjebak di sebuah pulau kecil yang berjarak ratusan meter dari daratan, sementara ada sesuatu di pulau itu yang memburu mereka. Keterampilan influencer yang biasanya bersinar itu sama sekali tidak berguna di sini — kamu tidak bisa menutupi rasa takut dengan filter, atau menghapus kematian lewat proses edit.

Para penyintas berlari, bersembunyi, dan berteriak dalam kegelapan. Yang dulu biasa mereka hadapi hanyalah pengguna iseng di kolom komentar, kini mereka berhadapan dengan sesuatu yang benar-benar ingin merenggut nyawa mereka.

Di Balik Topeng Besi

Ketika para penyintas akhirnya memberanikan diri menghadapi sosok mengerikan bertopeng besi itu, kebenarannya ternyata jauh lebih mengerikan daripada legenda supernatural.

Elin menatap ke depan melalui jendela mobil — setelah semua yang dialaminya, tatapannya sudah sepenuhnya berubah

“Märit” bukanlah arwah penyihir yang berkeliaran selama empat ratus tahun. Di balik topeng besi itu ada manusia yang masih hidup — seorang pembunuh sungguhan yang memanfaatkan pulau terpencil dan legenda kuno itu sebagai kedok. Seluruh proyek “kamp ekologi” itu tak lain hanyalah jebakan yang dirancang dengan cermat, memakai umpan perjalanan gratis dan kerja sama media sosial untuk memancing satu demi satu kelompok anak muda yang terisolasi ke pulau tanpa jalan keluar ini.

Elin adalah salah satu dari sedikit orang yang selamat dari mimpi buruk ini. Dia bertahan hidup bukan karena kemampuannya memotret dan mengunggah konten — melainkan karena hal-hal yang sering diremehkan di dunia influencer sebagai “kurang keren”: kewaspadaan, ketenangan, dan kecurigaan naluriah terhadap kilau yang palsu.