← Kembali ke beranda

Countdown

Sebuah aplikasi hitung mundur kematian yang mengubah usaha melawan takdir menjadi pelanggaran perjanjian yang mematikan: uraian lengkap alur cerita Countdown, dari Quinn dan Matt yang melacak asal kutukan, lingkaran garam yang jebol, sampai ending saat Quinn mematahkan ramalan dengan nalokson

Judul

Countdown

Tahun / Durasi

2019 · 90 menit

Genre

Thriller / Horor

Sutradara

Justin Dec

Penulis

Justin Dec

Rating

Pemeran

Elizabeth Lail (sebagai Quinn Harris), Jordan Calloway (sebagai Matt Monroe), Talitha Eliana Bateman (sebagai Jordan Harris), Peter Facinelli (sebagai Dr. Sullivan), P.J. Byrne (sebagai Pastor John), Tom Segura (sebagai Derek)

Countdown
Seorang perempuan muda memegang gelas kaca sambil menoleh waspada ke samping Sebuah ponsel yang tergeletak di lantai berdebu menampilkan hitung mundur yang tersisa dua detik Seorang pria berbaju pasien bertumpu pada tongkat penyangga sambil berteriak marah Seorang perempuan berambut pirang mengernyit menatap ponsel di tangannya Seorang pria berseragam bedah hijau berdiri di koridor rumah sakit yang lengang Seorang perempuan berambut pirang menggenggam linggis di dalam ruangan remang-remang
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Countdown adalah film horor supranatural Amerika Serikat yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Justin Dec, dibintangi Elizabeth Lail, Jordan Calloway, Talitha Eliana Bateman, Peter Facinelli, P.J. Byrne, dan Tom Segura. Film ini tayang di Amerika Serikat pada 25 Oktober 2019 dengan durasi 90 menit.

Per 21 Agustus 2026, film ini mendapat skor 5,4 di IMDb dari sekitar 54.100 pengguna. Dari 72 ulasan yang terkumpul di Rotten Tomatoes, 26% di antaranya positif, sedangkan indeks popcorn penonton berada di angka 72% (lebih dari 1.000 penilaian terverifikasi). Tanggapan kritikus secara keseluruhan cenderung negatif; banyak yang menilai premis ramalan kematiannya terasa jelas meminjam dari film lain, sementara karakter dan aturan kutukannya kurang dikembangkan lebih jauh. Tanggapan penonton relatif lebih positif, dan sebagian penilaian memuji temponya yang lugas serta adegan kejutan yang bertubi-tubi.

Bagian berikut memuat alur cerita lengkap beserta endingnya.

Courtney Hanya Punya Tiga Jam

Sekelompok anak muda mencoba aplikasi ponsel bernama Countdown di sebuah pesta. Aplikasi itu mengklaim bisa menampilkan secara persis berapa lama sisa hidup setiap penggunanya; hasil kebanyakan orang terhitung dalam satuan tahun, tetapi layar Courtney hanya menyisakan tiga jam. Evan, pacarnya, sudah mabuk namun tetap hendak mengantarnya pulang dengan mobil; Courtney menolak naik gara-gara hitung mundur itu, lalu aplikasinya langsung memberi tahu bahwa dia telah melanggar perjanjian pengguna.

Seorang perempuan muda memegang gelas kaca sambil menoleh waspada ke samping

Setelah pulang sendirian, Courtney terus merasakan kejanggalan. Ketika hitung mundurnya mencapai nol, sebuah kekuatan tak kasatmata mengangkat tubuhnya lalu membantingnya ke bak mandi, dan dia tewas seketika. Pada saat yang sama, Evan yang pergi mengemudi sendirian menabrak masuk ke hutan, dan sebatang dahan menembus kursi penumpang depan — persis tempat yang semula akan diduduki Courtney. Aplikasi itu bukan hanya meramalkan kematian, tetapi juga menagih kembali akhir yang berhasil dihindari setelah penggunanya mengubah rencana semula.

Sebuah ponsel yang tergeletak di lantai berdebu menampilkan hitung mundur yang tersisa dua detik

Kematian di Rumah Sakit dan Aplikasi yang Tak Bisa Dihapus

Evan dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan itu, dan dia menceritakan soal aplikasi tersebut beserta kematian Courtney kepada Quinn Harris, perawat yang menanganinya. Hitung mundurnya akan berakhir tepat pada saat operasi berlangsung, maka dia mendadak kabur dari kamar perawatan dan menerima peringatan pelanggaran perjanjian pengguna yang sama. Setelah masuk ke area rumah sakit yang belum selesai dibangun, Evan melihat sosok mengerikan berwujud Courtney, lalu terjatuh dari tangga dan tewas.

Seorang pria berbaju pasien bertumpu pada tongkat penyangga sambil berteriak marah

Quinn semula tidak memercayai Evan, tetapi setelah mengunduh aplikasi itu bersama rekan kerjanya, hasil yang dia dapat hanya menyisakan tiga hari. Dia sebenarnya sudah berjanji berziarah ke makam ibunya bersama Charlie, ayahnya, dan Jordan, adiknya, tetapi kemudian membatalkan rencana itu, dan ponselnya seketika menyatakan dia melanggar perjanjian. Quinn memeriksa ponsel Evan sekaligus menelusuri catatan kematian pengguna lain, lalu perlahan memastikan bahwa semua kejadian ini bukan lelucon internet.

Seorang perempuan berambut pirang mengernyit menatap ponsel di tangannya

Quinn berusaha menghapus aplikasi itu, bahkan mengganti ponsel, nomor, dan kartu SIM, tetapi Countdown tetap muncul sendiri di ponsel barunya. Di luar toko ponsel dia diserang sesosok bayangan hitam, lalu dalam kepanikan dia menabrak mobil lain. Tepat ketika perselisihan itu terjadi, seorang pelanggan lain bernama Matt menengahi untuknya; Matt juga pengguna aplikasi tersebut, dan sisa waktunya tinggal belasan jam.

Tuduhan Balik Sullivan dan Teror yang Terus Mengejar

Quinn dan Matt kembali ke rumah sakit untuk mencari bantuan, dan di sana Quinn baru tahu bahwa atasannya, Dr. Sullivan, sudah lebih dulu memutarbalikkan cerita tentang perselisihan mereka sebelumnya. Sullivan pernah membawanya ke sebuah kamar pasien dan memaksa mendekatinya; setelah Quinn menolak, dia bersiap melaporkan kejadian itu kepada kepala perawat, tetapi Sullivan malah balik menuduh Quinn yang melecehkan dirinya. Rumah sakit pun menonaktifkan Quinn dari pekerjaannya, sehingga dia kehilangan lingkungan kerja yang normal serta dukungan rekan-rekannya justru ketika hitung mundurnya kian mendekat.

Seorang pria berseragam bedah hijau berdiri di koridor rumah sakit yang lengang

Penonaktifan itu tidak memutus kutukannya. Bayangan-bayangan yang diciptakan hitung mundur tetap memburu Quinn, sehingga dia hanya bisa terus berjaga-jaga terhadap sosok hitam yang muncul tiba-tiba, sekaligus mencari jalan keluar bersama Matt yang juga dikunci oleh aplikasi itu.

Seorang perempuan berambut pirang menggenggam linggis di dalam ruangan remang-remang

Matt dan Perjanjian Pengguna

Quinn dan Matt bergandengan mencari cara mematahkan kutukan ini. Mereka berhasil membaca perjanjian pengguna secara utuh dan menemukan bahwa yang disebut “pelanggaran” adalah ketika pengguna mengubah rencana yang semestinya berujung pada kematiannya: Quinn membatalkan perjalanan bersama keluarganya, sedangkan Matt tidak jadi menaiki kereta yang sudah dijadwalkan. Aplikasi itu menganggap perubahan tersebut sebagai usaha melarikan diri dari takdir yang sudah ditetapkan, dan iblisnya akan terus menciptakan bayangan serta serangan sebelum waktu yang ditentukan tiba.

Seorang perempuan berbicara menghadap seorang pria yang mengangkat ponsel berisi tampilan hitung mundur

Matt bercerita kepada Quinn bahwa adik laki-lakinya meninggal sewaktu kecil karena sakit parah, dan selama ini dia menyalahkan diri sendiri atas satu hal kecil pada saat kebersamaan terakhir mereka. Sejak itu bayangan yang mengejar Matt kerap mengambil wujud adiknya. Quinn pun renggang hubungannya dengan Jordan, adiknya, akibat keretakan keluarga setelah ibu mereka meninggal; ketakutan keduanya sama-sama diubah oleh iblis itu menjadi wujud yang bisa dimanfaatkan.

Seorang pria berbaju putih menoleh ke belakang

Derek Mengubah Hitung Mundur

Keduanya lebih dulu meminta bantuan Pastor John. Sang pastor menuturkan legenda tentang seorang pangeran yang memanfaatkan ramalan kematian untuk mengubah takdirnya lalu diburu oleh iblis bernama Ozhin, dan dia menduga Countdown kemungkinan besar adalah bentuk modern dari kutukan yang sama. Untuk memastikan dugaannya sekaligus mencari jalan keluar, dia meminta keduanya mengupayakan agar kode aplikasi itu bisa didapat.

Quinn dan Matt lalu menemui Derek, pegawai toko ponsel. Setelah masuk ke dalam programnya, Derek mendapati berkas aplikasi tersebut berukuran janggal besar, dan pada awal kodenya masih ada sepotong teks berbahasa Latin. Sederet nama beserta keterangan hitung mundur yang muncul berikutnya menunjukkan bahwa program itu mencatat batas waktu semua penggunanya.

Seorang pria berjanggut menganga menatap ke atas

Derek juga menemukan bahwa Jordan sudah mengunduh Countdown, dan bahwa dia akan mati beberapa menit lebih dulu daripada Quinn. Dia lalu mengubah sisa waktu Quinn, Matt, dan Jordan menjadi puluhan tahun, sehingga ponsel mereka sempat menampilkan batas waktu yang baru; tetapi perubahan kode itu tidak melenyapkan iblisnya, dan ketiga hitung mundur tersebut segera kembali seperti semula.

Dua pria dan seorang perempuan berbincang di depan meja konter sebuah toko servis ponsel

Waktu yang Kembali Semula dan Pertahanan Lingkaran Garam

Jordan diserang monster berwujud ibu mereka setelah melihat hitung mundurnya kembali seperti semula. Quinn dan Matt datang menyelamatkannya, lalu mereka bertiga membawa kode itu kembali kepada Pastor John.

Seorang perempuan muda berkaca-kaca menatap ke depan di dalam ruangan yang remang

Setelah menerjemahkan teks Latin itu, Pastor John memastikan bahwa ini adalah kutukan yang akan memburu penggunanya sampai mereka binasa. Menurut penilaiannya, kutukan tersebut bisa dipatahkan asalkan ada orang yang mati sebelum hitung mundurnya berakhir, atau tetap hidup setelah hitungannya mencapai nol, karena hal itu membuktikan bahwa hitung mundurnya salah. Sang pastor membuat lingkaran pelindung memakai garam yang sudah diberkati, dan semua orang bertahan di dalam lingkaran itu sambil menanti hitung mundurnya habis.

Empat orang mengelilingi sebuah buku tua yang terbuka sambil mengamatinya

Ozhin tidak bisa langsung melewati lingkaran garam tersebut, maka dia terus menciptakan bayangan. Dia memancing Matt keluar dari area perlindungan dengan menyamar sebagai adik laki-laki Matt; ketika Quinn dan Jordan mengejar keluar, Matt sempat tersadar kembali, tetapi seketika itu juga ditabrak mobil yang melaju. Matt tewas tepat pada saat hitung mundurnya sendiri mencapai nol, dan Jordan pun terluka di bagian perut dalam kekacauan itu.

Pertaruhan Terakhir di Rumah Sakit

Quinn membawa Jordan kembali ke rumah sakit, lalu teringat cara lain yang pernah diajukan Pastor John. Dia mendapati aplikasi milik Sullivan masih menampilkan sisa umur puluhan tahun, maka dia memancing pria itu ke area rumah sakit yang belum selesai dibangun untuk mencoba membuatnya mati lebih dulu daripada hitung mundurnya sendiri. Ozhin menyadari rencana tersebut, mencegah Quinn membunuh Sullivan, lalu berbalik mengejar Jordan yang waktunya segera tiba.

Monster bermata menyala dengan taring terbuka berdiri di dalam ruangan yang remang

Quinn kemudian mengalihkan sasarannya ke dirinya sendiri. Dia menyuntikkan obat berdosis berlebih ke tubuhnya sendiri sehingga napasnya berhenti sebelum hitung mundur pribadinya berakhir, dan dengan begitu ramalan aplikasi tersebut menjadi salah. Sebelumnya dia sudah menandai titik suntikan di lengannya dan menuliskan petunjuk tentang nalokson; begitu menemukannya, Jordan langsung menyuntikkan nalokson yang dipakai rumah sakit untuk menangani overdosis opioid. Napas Quinn kembali, hitung mundur di ponsel kedua kakak beradik itu berhenti, dan Ozhin pun lenyap untuk sementara.

Ending

Quinn, Jordan, dan ayah mereka bersama-sama berziarah ke makam sang ibu. Quinn menerima kabar bahwa semakin banyak perawat yang berani melaporkan Sullivan, dan pria itu sudah ditangkap polisi. Jarak di antara kedua kakak beradik dan ayah mereka mulai mencair, tetapi ponsel Quinn tak lama kemudian memasang sendiri Countdown 2.0, tanda bahwa kutukan itu belum benar-benar berakhir.

Seorang pria merangkul dua perempuan di sisinya di sebuah pemakaman

Masih ada satu adegan lanjutan di tengah kredit film: Derek bertemu teman kencannya di sebuah restoran, dan setelah orang itu meninggalkan meja, ponselnya memberi peringatan pelanggaran perjanjian pengguna, lampu restoran seketika padam, iblis tersebut menyerbu ke arahnya, dan gambarnya berakhir di tengah serangan itu.