Thappad
Satu tamparan membuatnya menimbang ulang rasa hormat dalam pernikahan: Uraian lengkap tentang Amrita yang meninggalkan rumah, mengajukan gugatan cerai, dan perpisahan terakhir dalam Thappad
Judul
Thappad
Tahun / Durasi
2020 · 142 menit
Genre
Drama
Sutradara
Anubhav Sinha
Penulis
Anubhav Sinha, Mrunmayee Lagoo Waikul
Rating
Pemeran
Taapsee Pannu (sebagai Amrita), Pavail Gulati (sebagai Vikram), Kumud Mishra (sebagai Sachin), Ratna Pathak Shah (sebagai Sandhya), Tanvi Azmi (sebagai Sulakshana), Maya Sarao (sebagai pengacara Netra)
Penghargaan
Filmfare Awards ke-66: 7 penghargaan, termasuk Film Terbaik dan Aktris Terbaik
Thappad adalah film drama berbahasa Hindi dari India yang disutradarai Anubhav Sinha dan ditulisnya bersama Mrunmayee Lagoo Waikul. Film ini dibintangi Taapsee Pannu, Pavail Gulati, Kumud Mishra, Ratna Pathak Shah, Tanvi Azmi, dan Maya Sarao. Film berdurasi 142 menit ini tayang di India pada 28 Februari 2020.
Hingga 6 September 2026, film ini mendapat rating 7,0 di IMDb; dari 16 ulasan kritikus yang dihimpun Rotten Tomatoes, 94% di antaranya positif. Tanggapan kritikus terhadap film ini secara keseluruhan cenderung positif, dan pada Filmfare Awards ke-66 film ini meraih 7 penghargaan, termasuk Film Terbaik dan Aktris Terbaik.
Keseharian yang Berputar di Sekitar Sang Suami
Amrita tinggal di Delhi bersama suaminya, Vikram. Setiap hari ia bangun pagi untuk menyiapkan makanan suaminya dan membereskan rumah, sekaligus merawat ibu mertuanya, Sulakshana. Dulu ia pernah belajar menari, tetapi kini sebagian besar waktunya ia curahkan untuk rumah tangga ini sambil menyesuaikan diri dengan rencana masa depan yang disusun Vikram. Vikram sendiri sangat mementingkan promosi jabatan dan terus mengupayakan posisi yang akan mengirimnya ke London.

Film ini sekaligus memperkenalkan beberapa perempuan lain yang hidupnya bersinggungan dengan Amrita. Sunita, yang setiap hari datang mengerjakan pekerjaan rumah, kerap dipukuli suaminya sepulang ke rumah; Shivani, sang tetangga, membesarkan putrinya seorang diri, sementara sang putri, Sania, berharap ibunya kembali membangun keluarga; Netra, seorang pengacara, bekerja di firma milik ayah mertuanya dan kariernya tampak sukses, tetapi ia sudah lama tidak dihargai suaminya dan menjalin hubungan di luar pernikahan dengan Priyan. Swati, tunangan adik laki-laki Amrita yang bernama Karan, bekerja di bawah Netra.
Setelah tahu bahwa ia akan mendapat kesempatan ke London, Vikram dan istrinya mengadakan pesta perayaan di rumah. Amrita sibuk menjamu keluarga dan teman, sedangkan Vikram menantikan perubahan yang akan dibawa mutasi ini bagi kariernya. Pesta belum juga usai ketika ia menerima kabar: penempatan posisi di London tidak sesuai dengan yang dijanjikan semula, dan ia tetap harus melapor kepada seorang atasan yang lebih junior darinya.

Sebuah Tamparan di Tengah Pesta
Vikram saat itu juga berdebat dengan Rajhans, atasannya yang hadir di sana. Amrita maju untuk melerai dan berharap suaminya tidak melanjutkan pertikaian di depan para tamu, tetapi Vikram justru berbalik dan menamparnya. Ruang tamu sesaat menjadi hening, lalu semua orang dengan cepat berusaha melanjutkan pesta. Sulakshana tidak lebih dulu menanyakan apakah Amrita terluka, melainkan memintanya kembali melayani para tamu.

Vikram tidak langsung bertanggung jawab atas tindakannya. Ia menganggap perbuatannya berpangkal pada kekecewaan di pekerjaan dan berharap Amrita melupakan kejadian itu. Amrita mencoba kembali ke kehidupannya yang dulu, tetapi ia justru menyadari bahwa tamparan tadi tidak lagi bisa ia anggap sebagai kecelakaan yang boleh diabaikan. Yang lebih sulit ia terima, hampir semua orang yang hadir malam itu menempatkan keutuhan pernikahan dan ketenangan di permukaan lebih tinggi daripada perasaannya.
Meninggalkan Rumah Pernikahan
Amrita lebih dulu pergi ke rumah tetangganya, Shivani. Shivani yang sudah menjadi janda memeluknya dan menemaninya melewati saat-saat paling kacau itu. Setelah itu Amrita pulang untuk tinggal sementara di rumah orang tuanya. Vikram datang memintanya kembali karena menganggap pernikahan mereka tidak seharusnya berakhir hanya karena satu pertikaian; Amrita perlahan menjelaskan keputusannya: persoalannya bukan sekadar satu tamparan, melainkan bahwa saat itulah ia melihat rasa hormat yang sudah lama tidak ada dalam hubungan ini.

Sachin, ayah Amrita, mendukung putrinya mengambil keputusan sendiri. Sandhya, ibunya, mula-mula mengkhawatirkan akibat perceraian dan berharap putrinya memikirkan keluarga, tetapi percakapan ibu dan anak itu juga menyentuh pengalaman Sandhya sendiri yang dulu melepaskan dunia menyanyi. Pada saat yang sama, Amrita melihat saudara laki-lakinya, Karan, memperlakukan tunangannya, Swati, dengan sikap meremehkan; Sachin menegur putranya dan mulai merenungkan kebiasaan lama di rumah mereka yang selama ini tampak lembut.

Bujukan dari Kedua Keluarga
Keluarga kedua belah pihak sama-sama mencoba menengahi. Vikram tetap menitikberatkan pada apakah Amrita akan pulang, bukan pada alasan mengapa ia melampiaskan amarahnya kepada istrinya. Sulakshana, ibunya, juga membujuk Amrita agar mengalah karena menganggap seorang istri sudah semestinya menjaga keutuhan keluarga. Amrita tidak menuntut tunjangan nafkah dan tidak berniat memperoleh harta lewat perceraian; ia hanya bersikeras mengakhiri sebuah pernikahan yang sudah kehilangan rasa hormat dan kebahagiaan.

Vikram kemudian mengirimkan pemberitahuan hukum yang menuntut pemulihan kehidupan bersama sebagai suami istri. Swati memperkenalkan Amrita kepada atasannya, pengacara Netra. Netra mula-mula menganggap satu tamparan tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan perceraian dan menyarankannya berdamai; Amrita tetap meminta cerai. Saat menyiapkan gugatan cerai, Netra membahas tuntutan harta dan nafkah dengannya, tetapi Amrita menyatakan bahwa ia tidak ingin menuntut hal-hal itu dan hanya ingin menyelesaikan persoalan hilangnya rasa hormat dalam pernikahannya. Keteguhannya membuat Netra ikut meninjau ulang pernikahannya sendiri yang tampak sukses, padahal sesungguhnya tidak setara.

Kehamilan dan Pertarungan di Jalur Hukum
Jawaban tertulis Vikram lebih dulu menyerang Amrita dengan tuduhan tidak benar soal motif harta dan kondisi kejiwaannya. Setelah itu, Amrita mengetahui bahwa dirinya hamil. Ia memutuskan melahirkan anak itu dan bersedia membiarkan Vikram ikut memikul tanggung jawab sebagai ayah, tetapi hal ini tidak mengubah keputusannya untuk mengakhiri pernikahan. Pihak Vikram justru memandang kehamilan tersebut sebagai alat tawar untuk menyelamatkan pernikahan dan memperebutkan anak. Pengacaranya menyatakan bahwa mereka bisa membicarakan sebuah apartemen dan tunjangan nafkah, tetapi syaratnya adalah hak asuh tunggal atas anak diberikan kepada Vikram dan Amrita kembali tinggal di rumah pihak suami selama masa kehamilan.


Menghadapi tuduhan-tuduhan itu, Amrita mengajukan pengaduan kekerasan dalam rumah tangga ke pengadilan magistrat, lalu menjelaskan syaratnya lewat sebuah nota kesepakatan: apabila Vikram menyetujui perceraian atas persetujuan bersama dan hak asuh bersama, ia akan menarik pengaduannya sebelum sidang dan tetap tidak menuntut harta maupun nafkah. Perseteruan perkara ini juga memaksa kedua keluarga kembali menghadapi apa yang terjadi pada malam pesta itu. Amrita menegaskan bahwa ketika itu tidak seorang pun lebih dulu menanyakan apakah ia baik-baik saja, tidak ada pula yang meminta Vikram minta maaf, dan orang-orang di sekitarnya hanya membujuknya untuk bersabar. Sulakshana akhirnya mengakui bahwa cara seperti itu telah melukainya dan meminta maaf kepadanya.

Ending
Vikram pada akhirnya tetap memperoleh promosi yang selama ini ia perjuangkan, tetapi Rajhans, atasannya, mengingatkan dia: malam itu orang yang sesungguhnya ia ributkan adalah atasannya, tetapi ia justru memilih memukul istrinya yang datang melerai. Vikram mulai menghadapi perbuatannya dengan jujur dan tidak lagi sekadar menjelaskan tamparan itu sebagai hilang kendali akibat tekanan pekerjaan. Ia menyetujui perceraian dan hak asuh bersama, dan sesuai kesepakatan Amrita pun menarik pengaduan kekerasan dalam rumah tangganya.

Ketika keduanya menyelesaikan prosedur perceraian di pengadilan, untuk pertama kalinya Vikram meminta maaf secara resmi kepada Amrita. Ia mengatakan bahwa dirinya sudah menolak promosi itu dan berhenti dari pekerjaannya, dan bahwa ia akan berusaha berubah menjadi orang yang lebih pantas dihormati. Amrita menerima permintaan maaf yang terlambat itu, tetapi tidak menarik keputusannya untuk bercerai. Keduanya berpamitan dan masing-masing meninggalkan pernikahan ini; Vikram tetap berharap suatu hari nanti ia dapat bertemu kembali dengan Amrita sebagai dirinya yang sudah berubah.
Sebelum dan sesudah perceraian itu, kehidupan orang-orang lain pun berubah. Sunita melawan dengan pisau ketika suaminya kembali memukulinya sehingga pria itu terpaksa berhenti; Karan mengakui bahwa ia pernah memperlakukan Swati dengan cara yang mirip dengan Vikram, lalu meminta maaf dengan sungguh-sungguh dan kembali melamarnya; Netra meninggalkan firma milik suami dan ayah mertuanya untuk menyiapkan kantornya sendiri; Shivani memilih tetap menjalani hidup dengan caranya sendiri. Sandhya kembali mendapatkan harmoniumnya yang dikeluarkan Sachin dari gudang, dan pasangan itu pun menghadapi penyesalan Sandhya yang dulu melepaskan dunia menyanyi.
Amrita pindah ke tempat tinggalnya sendiri, membeli perabot, dan mulai menyetir mobil sendiri. Setelah menandatangani berkas bersama Vikram di pengadilan, keduanya pergi dengan mobil masing-masing yang melaju ke arah berbeda. Cerita ini ditutup dengan kembali menengok kehidupan beberapa perempuan tadi: Sunita menonton acara tari sendirian di rumah, Shivani menemani putrinya dan teman-teman putrinya, Netra menjenguk ayah mertuanya, sedangkan Amrita memegang kemudi dan melaju di jalannya sendiri.

Lebih Banyak Foto Adegan
Foto Adegan Lainnya

