Extinction
Manusia yang dianggap penyerbu kembali ke Bumi: alur cerita lengkap film Extinction, tentang bagaimana satu pelarian di tengah serangan kota membongkar jati diri manusia sintetis, ingatan perang lama, dan terbaliknya posisi dua kaum
Judul
Extinction
Tahun / Durasi
2018 · 95 menit
Genre
Fiksi ilmiah / Thriller
Sutradara
Ben Young
Penulis
Spenser Cohen, Brad Kane, Eric Heisserer (tidak dikreditkan)
Rating
Pemeran
Michael Peña (sebagai Peter), Lizzy Caplan (sebagai Alice), Israel Broussard (sebagai Miles), Mike Colter (sebagai David), Amelia Crouch (sebagai Hannah), Erica Tremblay (sebagai Lucy)
Extinction adalah film fiksi ilmiah bernuansa thriller asal Amerika Serikat yang disutradarai Ben Young, dengan naskah yang dikreditkan kepada Spenser Cohen dan Brad Kane serta ditulis pula oleh Eric Heisserer yang tidak dikreditkan, dibintangi Michael Peña, Lizzy Caplan, Israel Broussard, dan Mike Colter. Film ini tayang di Netflix pada 27 Juli 2018 dengan durasi 95 menit.
Per 9 September 2026, film ini memperoleh skor IMDb 5,8 dari sekitar 63 ribu suara; dari 25 ulasan kritikus profesional yang dihimpun Rotten Tomatoes, 32 persen di antaranya positif, sementara lebih dari seribu penonton memberi tingkat penilaian positif sebesar 47 persen. Skor yang terlihat di beberapa platform sama-sama tidak sampai enam puluh persen, dan tanggapan secara keseluruhan cenderung negatif.
Mimpi Kehancuran yang Terus Berulang
Peter adalah seorang insinyur yang tinggal di sebuah kota modern bersama Alice, sang istri, dan kedua putri mereka, Hannah dan Lucy. Peter berulang kali memimpikan pasukan bersenjata yang turun dari langit lalu memburu dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Potongan mimpi itu makin sering muncul, dan ia kerap mendadak melamun saat bekerja, sehingga pengoperasian mesin ikut terganggu sekaligus membuat Alice khawatir bahwa ia kian menjauh dari keluarganya.

David, atasannya, menyarankan Peter menjalani terapi. Peter datang ke klinik dan di ruang tunggu yang terang serta nyaris kosong ia bertemu Chris, pasien lain yang terganggu oleh mimpi serupa. Chris menilai gambaran-gambaran itu bukan mimpi buruk biasa, dan mengatakan bahwa terapi di klinik hanya akan menekannya. Karena itu Peter pergi tanpa menjalani terapi.

Pesta Keluarga dan Serangan Pesawat ke Kota
Malam itu, Alice menggelar pesta di rumah untuk merayakan kenaikan jabatannya. Peter tetap saja menatap langit dan mencoba mencari bukti bahwa mimpinya segera menjadi kenyataan lewat teleskop yang ia belikan untuk putrinya. Perhatiannya kembali lepas dari keluarga, dan perselisihan di antara suami istri itu pun makin dalam.

Tak lama kemudian sekawanan pesawat muncul di langit dan tembakan bertubi-tubi menghantam gedung-gedung kota. Keluarga Peter bersama tetangga mereka, Ray dan Samantha, menyadari bahwa Hannah dan Megan, putri sang tetangga, menghilang. Peter dan Ray nekat keluar untuk mencari kedua anak itu lalu membawa mereka kembali dari dekat lift; prajurit berbaju zirah sudah masuk ke dalam gedung dan menyisir para penyintas lantai demi lantai.


Prajurit Berbaju Zirah di Dalam Apartemen
Setelah semua orang berpencar untuk bersembunyi, Peter dan Alice menutup rapat pintu masuk apartemen. Hannah dan Lucy bersembunyi di kamar, tetapi Lucy keluar dari tempat persembunyian demi mengambil kembali boneka monyetnya. Seorang prajurit berbaju zirah menembus dinding dan menemukan gadis itu di bawah meja, namun tidak langsung menembak. Peter memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menerjangnya, Alice pun ikut bergulat, dan berdua mereka berhasil merobohkan sang prajurit.


Peter mengambil senapan milik prajurit itu, tetapi tidak bisa menembakkannya karena senjata tersebut memiliki kunci biometrik. Sekeluarga melarikan diri dari apartemen dan berkumpul dengan para tetangga di atap gedung. Mereka menyaksikan sekelompok penyintas lain dihantam pesawat, sehingga satu-satunya pilihan adalah turun lewat gondola pembersih jendela; setelah gondola itu rusak, mereka terpaksa kembali masuk ke dalam gedung.

Menembus Reruntuhan Menuju Pabrik
Peter teringat bahwa di dalam mimpinya pabrik tempat ia bekerja mampu menahan serangan, sehingga semua orang memutuskan menuju ke sana lewat terowongan bawah tanah. Pesawat-pesawat itu kembali membombardir gedung, dan Ray, Samantha, serta Megan tidak lolos dari serangan tersebut. Saat menuruni gedung, keluarga Peter terdesak oleh para prajurit, tetapi ia akhirnya berhasil membuka kunci pengenalan pada senapan itu dan menerobos keluar bersama istri dan kedua putrinya.

Ketika keluarga itu tiba di mulut terowongan, Alice terkena ledakan dan lukanya memburuk dengan cepat. Prajurit yang sebelumnya dirobohkan menyusul mereka berkat sinyal pelacak pada senapan tersebut. Peter kembali melumpuhkannya, tetapi setelah helm lawannya dilepas ia mendapati bahwa prajurit yang disangka makhluk asing itu berwajah manusia, dan bahkan mengerti bahasa mereka.

Wajah Manusia dan Kebenaran tentang Manusia Sintetis
Peter memaksa prajurit itu menggendong Alice, lalu mereka bersama-sama sampai di pabrik. David mengorganisasi pertahanan bersenjata di sana dan mengakui bahwa mereka sudah sejak lama memperkirakan serangan ini. Petugas medis menilai Alice tidak bisa diselamatkan; ketika para penjaga bersiap mengeksekusi sang tawanan, prajurit itu mengaku tahu cara menyelamatkannya. Peter meminta David lebih dulu membawa kedua putrinya ke stasiun kereta bawah tanah, sementara ia sendiri tinggal untuk menolong Alice.


Prajurit itu bernama Miles. Ia memberi tahu Peter bahwa Alice bukan manusia, melainkan manusia sintetis, dan membutuhkan energi dari sesamanya. Peter menyayat dadanya sendiri dan melihat struktur mesin di balik kulitnya, barulah ia memastikan bahwa dirinya pun manusia sintetis. Miles menghubungkan Peter dengan Alice, dan transfer energi itu memulihkan Alice sementara Peter kehilangan kesadaran.

Ingatan Perang Lima Puluh Tahun Lalu
Dalam keadaan tak sadarkan diri, Peter kembali mengalami potongan-potongan yang ia kira berasal dari masa depan. Lima puluh tahun lalu, Peter dan Alice adalah petugas sintetis di sebuah rumah sakit. Seiring manusia sintetis mulai menunjukkan emosi dan kesadaran mandiri, masyarakat manusia memandang mereka sebagai ancaman, dan militer mulai menghentikan pengoperasian robot-robot itu. Manusia sintetis lalu mengangkat senjata untuk melawan, dan pada akhirnya mengusir manusia dari Bumi.

Selama perang berlangsung, Peter dan Alice bertemu Hannah dan Lucy yang kehilangan pengasuh mereka sebelumnya, lalu membawa kedua gadis sintetis itu bersama mereka dan membentuk sebuah keluarga. Setelah perang usai, sebagian besar manusia sintetis dengan sukarela mengunci ingatan perang mereka demi melepaskan diri dari rasa bersalah dan ketakutan akan kembalinya manusia, lalu hidup sebagai orang biasa. Mimpi yang selama ini dialami Peter sebenarnya adalah ingatan lama yang tertekan itu yang muncul kembali.
Setelah Peter siuman, Miles menjelaskan bahwa manusia terpaksa hidup di koloni Mars selama lima puluh tahun. Sejak kecil ia diberi tahu bahwa manusia sintetis di Bumi adalah monster, tetapi setelah melihat Lucy di apartemen dan menyaksikan keluarga sintetis ini, ia mulai meragukan keterangan yang selama ini ia terima dan tidak lagi mau membunuh mereka.
Ending
Pasukan manusia menyerbu masuk lewat atap pabrik, dan Peter bersama Alice yang sudah siuman berpisah dari Miles untuk bergegas mencari kedua putri mereka. Keduanya menembus pabrik di tengah baku tembak, menyusul David, Hannah, dan Lucy tepat pada waktunya, lalu naik ke kereta yang menuju markas bawah tanah. David menjelaskan bahwa dirinya dan segelintir manusia sintetis tidak menghapus ingatan mereka dan diam-diam terus bersiap menghadapi kembalinya manusia, sehingga mereka mampu mengorganisasi evakuasi begitu serangan terjadi.

Kereta melintasi bagian rel yang sesaat muncul di permukaan, dan dari gerbong belakang keluarga itu memandang kota yang telah hancur. Dari perubahan sikap Miles, Peter melihat kemungkinan kedua kaum menghentikan perang, tetapi untuk saat ini ia hanya bisa lebih dulu membawa keluarganya ke tempat yang aman. Kereta kemudian masuk ke terowongan, mulut terowongan di belakang mereka runtuh dan tertutup, sehingga manusia sintetis yang selamat terpisah dari kota dan para pengejarnya. Bidikan kamera terakhir dari atas melewati mulut terowongan yang runtuh itu dan memperlihatkan pepohonan lebat di sekitarnya serta barisan pegunungan di kejauhan.